Olahraga Bisa Turunkan Risiko Alzheimer? Ini Faktanya!

Olahraga Bisa Turunkan Risiko Alzheimer? Ini Faktanya!

Hai sahabat Maingame88 apa kabarnya. Bukan rahasia kalau olahraga menyimpan berbagai manfaat untuk kesehatan. Olah raga juga dapat menyehatkan otak, mencegah berbagai penyakit kronis seperti, jantung. Aktivitas dan olahraga aktif membantu menjaga otak tetap berfungsi dan meningkatkan kinerja memori. Juga mencegah penyakit Alzheimer

Olahraga juga menghambat penurunan fungsi sel saraf pada otak yang terjadi sepanjang usia. Olahraga dapat menangkal penyakit penurunan kognitif. Lewat sebuah pengujian terhadap hewan, penelitian terbaru menekankan manfaat olahraga untuk mencegah Alzheimer.

Baca juga : Taroslot Bandar Togel Online Dan Bandar Slot Terbesar Di Indonesia 2021

  • Hubungan olahraga dan Alzheimer masih samar

Sebagai bentuk paling umum dari gangguan kognitif demensia, penyakit Alzheimer dapat menyebabkan degenerasi bagian otak yang berfungsi untuk berpikir, mengingat, dan berbahasa. Sementara sebagian besar kasus Alzheimer berkaitan dengan usia dan genetik, ternyata faktor gaya hidup amat penting!

Akan tetapi, bagaimana faktor aktivitas fisik melindungi otak dari risiko Alzheimer masih abu-abu. Seiring otak menua, cara regulasi zat besi pada otak juga ikut berubah. Hal ini diklaim dapat memperbesar risiko Alzheimer.

Sebuah penelitian gabungan antara Amerika Serikat dan Italia pada tahun 2014 yang berjudul “The role of iron in brain ageing and neurodegenerative disorders” mengaitkan penumpukan zat besi di otak dan perubahan regulasi zat besi di otak. Hasilnya, muncul plak protein beta-amiloid yang umum pada otak pasien Alzheimer.

Anggapan umum bahwa olahraga teratur dapat mempercepat metabolisme zat besi pada otak sehingga tidak menumpuk dan membentuk plak beta-amiloid. Namun, lagi-lagi mekanisme ini tidak pasti.

  • Lucunya, melibatkan tikus dan jogging wheel

Sebuah studi gabungan antara Australia dan Finlandia berjudul “Regular Physical Exercise Modulates Iron Homeostasis in the 5xFAD Mouse Model of Alzheimer’s Disease” ingin mengetahui hubungan antara olahraga dan risiko Alzheimer genetik. Studi ini dalam International Journal of Molecular Sciences pada 13 Agustus 2021.

Melibatkan University of Eastern Finland dan gabungan universitas di Australia, para ilmuwan membandingkan tikus yang secara genetik cenderung mengembangkan Alzheimer (5xFAD) dan tikus biasa.

Para tikus menggunakan jogging wheel sebagai sarana olahraga, dan program olahraga berlangsung selama 1,5 sampai 7 bulan. Para ilmuwan kemudian mengukur kadar zat besi dan protein penting untuk mengatur zat besi otak dan otot tikus.

  • Hasil: olahraga menurunkan risiko Alzheimer lewat regulasi zat besi pada otak

Hasilnya, olahraga diketahui mengurangi kadar protein feritin dan hepsidin yang meningkatkan aktivitas penumpukan zat besi di korteks otak. Selain itu, olahraga menurunkan kadar beta-amiloid di otak tikus, senyawa yang umum pada otak pasien Alzheimer.

Konsentrasi molekul sinyal interleukin-6 (IL-6) lebih rendah pada korteks dan plasma darah tikus yang aktif berolahraga. Dengan kata lain, risiko inflamasi atau peradangan pada otak lebih minim.

Bukan hanya pada tikus, olahraga juga berguna menekan kadar IL-6 pada manusia! IL-6 dapat melewati sawar darah-otak dan meningkatkan penumpukan zat besi melalui efeknya pada hepsidin selama inflamasi. Dengan menekan IL-6 lewat olahraga, maka otak terlindung dari homeostasis besi, sebuah tanda penuaan otak dan menurunnya daya ingat.

  • Penelitian terdahulu oleh instansi yang sama

Sebelum studi ini terbit pada Agustus 2021, pada September lalu, ternyata ilmuwan dari Finlandia dan Australia juga bekerja sama. Lewat penelitian bertajuk “Astrocyte remodeling in the beneficial effects of long-term voluntary exercise in Alzheimer’s disease”, mereka ingin melihat hubungan Alzheimer dan olahraga pada tikus.
Sama-sama menggunakan tikus 5xFAD dan tikus biasa, mereka melihat bahwa olahraga bermanfaat besar untuk mengurangi risiko Alzheimer. Bahkan, para peneliti Finlandia dan Australia menemukan bahwa olahraga dapat “membalikkan” risiko penurunan kognitif yang khas dengan penyakit Alzheimer pada tikus.

  • Kekurangan penelitian yang baru menggunakan tikus

Hasil penelitian ini memang menjanjikan untuk perkembangan penelitian Alzheimer. Akan tetapi, kekurangan utama dari studi ini adalah karena baru menggunakan hewan sebagai subjek.

Dengan kata lain, penelitian ini tidak mencakup faktor berbeda antara Alzheimer pada manusia dan hewan. Selain itu, faktor olahraga juga kemungkinan memiliki efek yang berbeda pada regulasi zat besi di otak tikus dan manusia.

Nah, semakin banyak alasan untuk berolahraga, kan? Selain makin fit secara jasmani, otak pun jadi lebih kuat dan tak termakan usia. Yuk, olahraga! Masa kalah sama tikus!?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *