Puluhan Jurnalis Tewas dari Serangan yang Ditargetkan Selama 2020.

Puluhan Jurnalis Tewas dari Serangan yang Ditargetkan Selama 2020.

Hallo sahabat setia semuanya kembali lagi bersama MAINGAME88 yang selalu setia meberikan kabar dunia terbaru dan terpopuler.
Kabar berita kali ini MAINGAME88 kutip dari kabar dunia yaitu Puluhan Jurnalis Tewas dari Serangan yang Ditargetkan Selama 2020.

Puluhan Jurnalis Tewas dari Serangan yang Ditargetkan Selama 2020.

Meksiko menempati peringkat teratas sebagai negara yang paling berbahaya bagi jurnalis.

 

Laporan tahunan kelompok advokasi media Reporters Without Borders (RSF) mengungkap setidaknya 50 jurnalis terenggut nyawanya saat bekerja pada tahun 2020. RSF memperingatkan soal peningkatan pembunuhan yang di targetkan.Lotto03

Baca juga: Lotto03.com Bandar Togel Online Terbesar & Terpercaya

“Saya kira tidak pernah semengerikan sekarang ini. Karena tampaknya semua jurnalis terancam,” kata Najib Sharifi, ketua Komite Keamanan Jurnalis Afghanistan, dalam wawancara video dengan DW. Sharifi sangat sibuk beberapa minggu terakhir ini dan terlihat kelelahan.

“Dalam kurun waktu hanya enam minggu, kami telah kehilangan empat jurnalis,” jelasnya. Mereka semua di tembak dan di bunuh dari jarak dekat, atau tewas saat bom yang di pasang di mobil mereka meledak.

Kelompok advokasi media Reporters without Borders (RSF) menuliskan bahwa tren yang terjadi di Afganistan juga serupa terjadi di negara-negara lain.

Laporan tersebut mencatat telah terjadi penurunan jumlah jurnalis yang meninggal saat melaporkan konflik bersenjata atau serangan teror, tetapi menunjukkan bahwa jumlah korban akibat pembunuhan yang di targetkan terus meningkat. Empat puluh dari 50 jurnalis yang terbunuh tahun ini meninggal dengan pembunuhan yang di targetkan.

Dalam kasus meninggalnya presenter TV perempuan Malala Maiwand, kelompok ISIS mengaku bertanggung jawab dalam serangan di Afganistan pada awal Desember tersebut.

Tetapi Sharifi mengatakan bahwa seringkali sulit untuk mengidentifikasi pelaku dan motif mereka. Sebelumnya, ISIS dan Taliban di anggap bertanggung jawab atas serangan semacam itu, namun sejak Taliban dan pemerintah Afganistan mengadakan pembicaraan damai, banyak hal menjadi kurang jelas setelahnya.

Maryam Marof, seorang jurnalis yang tinggal di Kabul, mengatakan kepada DW bahwa jurnalis perempuan menghadapi ancaman yang meningkat. “Musuh Afganistan takut bahwa generasi baru perempuan Afganistan akan menantang tabu yang mereka klaim sebagai bagian dari budaya Afganistan,” katanya.

 

PERINGKAT KEBEBASAN PERS NEGARA MUSLIM.

Kekuasaan Musuh Kebebasan.
Kekhawatiran bahwa gerakan radikal Islam membatasi kebebasan pers hampir sulit di buktikan. Kebanyakan penindasan yang terjadi terhadap awak media di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim di lakukan oleh pemerintah, bukan ormas atau masyarakat, kecuali di kawasan konflik seperti Irak, Suriah atau Libya. Berikut peringkat kebebasan pers sejumlah negara muslim terbesar.

#120 Afghanistan.

Wartawan di Afghanistan memiliki banyak musuh, selain Taliban yang gemar membidik awak media sebagai sasaran serangan, pemerintah daerah dan aparat keamanan juga sering di laporkan menggunakan tindak kekerasan terhadap jurnalis, tulis RSF. Namun begitu posisi Afghanistan tetap lebih baik ketimbang banyak negara berpenduduk mayoritas muslim lain.

#124 Indonesia.

Intimidasi dan tindak kekerasan terhadap wartawan di laporkan terjadi selama masa kampanye Pilkada DKI Jakarta. Terutama kelompok radikal seperti FPI dan GNPF-MUI tercatat terlibat dalam aksi pemukulan atau penangkapan terhadap awak media. Namun begitu kaum radikal bukan di anggap ancaman terbesar kebebasan pers di Indonesia, melainkan militer dan polisi yang aktif mengawasi pemberitaan di Papua.

#139 Pakistan.

Wartawan di Pakistan termasuk yang paling bebas di Asia, tapi kerap menjadi sasaran serangan kelompok radikal, organisasi Islam dan dinas intelijen, tulis Reporters sans frontières. Sejak 1990 sudah sebanyak 2,297 awak media yang tewas. April silam, Mashal Khan, seorang wartawan mahasiswa tewas di aniaya rekan sekampus lantaran di anggap menistakan agama.

#144 Malaysia.

Undang-undang Percetakan dan Penerbitan Malaysia memaksa media mengajukan perpanjangan izin terbit setiap tahun kepada pemerintah. Regulasi tersebut di gunakan oleh pemerintahan Najib Razak untuk membungkam media yang kritis terhadap pemerintah dan aktif melaporkan kasus dugaan korupsi yang menjerat dirinya. Selain itu UU Anti Penghasutan juga di anggap ancaman karena sering di salahgunakan.

#155 Turki.

Perang melawan media independen yang di lancarkan Presiden Recep Tayyip Erdogan pasca kudeta yang gagal 2016 silam menempatkan 231 wartawan di balik jeruji besi. Sejak itu sebanyak 16 stasiun televisi, 23 stasiun radio, 45 koran, 15 majalah dan 29 penerbit di paksa tutup.

#161 Mesir.

Enam tahun setelah Revolusi Januari, situasi kebebasan pers di Mesir memasuki masa-masa paling gelap. Setidaknya sepuluh jurnalis terbunuh sejak 2011 tanpa penyelidikan profesional oleh kepolisian. Saat ini paling sedikit 26 wartawan dan awak media di tahan di penjara. Jendral Sisi terutama memburu wartawan yang di curigai mendukung atau bersimpati terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin.

#165 Iran.

Adalah hal ironis bahwa kebebasan pers menjadi salah satu tuntutan revolusi yang menanggalkan kekuasaan Shah Iran pada 1979. Namun janji itu hingga kini tidak di tepati. Iran masih menjadi kuburan dan penjara terbesar bagi awak media, tulis Reporters Sans Frontières. Saat ini tercatat 29 wartawan di penjara dan belasan media independen di berangus oleh pemerintah.

#168 Arab Saudi.

Berada di peringkat 168 dari 180 negara, Arab Saudi nyaris tidak mengenal pers bebas. Internet adalah satu-satunya ranah media yang masih menikmati sejumput kebebasan. Namun ancaman pidana tetap mengintai blogger yang nekat menyuarakan kritiknya, seperti kasus yang menimpa Raif Badawi. Ia di hukum 10 tahun penjara dan 10.000 pecutan lantaran di anggap melecehkan Islam. (rzn/yf – sumber: RSF).

Meksiko, India termasuk di antara 5 negara teratas yang berbahaya bagi jurnalis.

Sekali lagi, Meksiko menduduki puncak daftar negara paling berbahaya bagi jurnalis. Setidaknya delapan jurnalis tewas di negara itu tahun ini, saat menyelidiki kejahatan terorganisir dan korupsi.

Sementara di Irak, tiga jurnalis meninggal saat meliput protes anti-pemerintah pada Januari 2020. Setidaknya satu dari mereka, menurut RSF, menjadi sasaran orang-orang bersenjata yang berusaha menghentikan media untuk melaporkan peristiwa tersebut.

Di Pakistan, jurnalis Zulfiqar Mandrani di temukan tewas pada Mei. Hasil penyelidikan menunjukkan tanda-tanda penyiksaan di tubuhnya. Teman dan koleganya mengklaim kematiannya terkait dengan laporan Mandrani atas kasus narkoba yang di duga melibatkan petugas polisi.

India terdaftar sebagai salah satu dari lima negara paling berbahaya bagi jurnalis. Sejak tahun 2010, RSF telah mencatat hingga lima kematian jurnalis di India setiap tahunnya. Tahun ini, RSF telah melaporkan empat kasus yang diduga terkait dengan kelompok kejahatan terorganisir lokal.Lotto03

Baca Juga IndoPK.com Agen Poker Online, Domino QQ dan Bandar Ceme Terpercaya

Temuan RSF telah di konfirmasi oleh pengawas hak asasi manusia media lainnya, seperti Komite untuk Melindungi Jurnalis (CPJ), yang mengatakan jurnalis India menghadapi pelecehan dan intimidasi dari para pelaku kriminal dan pejabat negara. CPJ menuntut penyelidikan menyeluruh atas pembunuhan jurnalis Rakesh Singh, yang tewas dalam serangan pembakaran pada akhir November.

“Pihak berwenang harus mengutuk kejahatan keji ini dan mengirimkan pesan yang jelas bahwa kekerasan terhadap jurnalis yang melaporkan korupsi tidak akan ditoleransi,” kata Aliya Iftikhar, peneliti Asia senior CPJ.

Awal bulan ini, Iran mengeksekusi Ruhollah Zam yang berbasis di Prancis, dan menjadi eksekusi jurnalis pertama dalam 30 tahun, karena diduga memicu protes anti-pemerintah pada 2017 melalui saluran pesan pendek Telegram. Dia diculik dalam perjalanan ke Irak dan dipenjarakan di Iran.

RSF juga mencatat ratusan jurnalis kehilangan nyawa tahun ini karena COVID-19. Beberapa dari kematian para jurnalis ini berkaitan dengan tugas pemberitaan mereka. RSF mencatat tiga kasus serupa di Rusia, Mesir, dan Arab Saudi, yakni para wartawan ditangkap sehubungan dengan pekerjaan mereka dan kemudian meninggal akibat COVID-19 karena tidak diberi akses ke perawatan medis. (pkp/rap).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *