Organisasi Media Terbesar Jerman Lumpuh Diserang Hacker Misterius

Organisasi Media Terbesar Jerman Lumpuh Diserang Hacker Misterius

Hallo sahabat setia semuanya kembali lagi bersama MAINGAME88 yang selalu setia meberikan kabar dunia terbaru dan terpopuler.
Kabar berita kali ini MAINGAME88 kutip dari kabar dunia yaitu Organisasi Media Terbesar Jerman Lumpuh Diserang Hacker Misterius

Organisasi Media Terbesar Jerman Lumpuh Diserang Hacker Misterius

Foto ilustrasi jaringan surat kabar Jerman.

 

Peretas melumpuhkan salah satu kelompok media terbesar Jerman selama liburan Natal. Funke Media Group mengatakan, sekitar 6000 komputernya terinfeksi. Sistem komputer harus di karantina untuk reparasi mahal.Lotto03

Baca juga: Lotto03.com Bandar Togel Online Terbesar & Terpercaya

Funke Media Group, salah satu organisasi media terbesar di Jerman yang menerbitkan lusinan surat kabar, majalah serta menjalankan beberapa stasiun radio lokal dan portal berita online, melaporkan sekitar 6.000 komputernya telah “berpotensi terinfeksi” dalam serangan peretasan selama liburan Natal. Beberapa surat kabar terpaksa tidak bisa terbit atau hanya terbit dengan “edisi darurat” yang sangat terbatas.

Andreas Tyrock, pemimpin redaksi harian Westdeutsche Allgemeine Zeitung (WAZ) milik Funke Media Group, menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “serangan kolosal” itu telah membuat data pada sistem IT terenkripsi dan “tidak bisa di gunakan lagi”.

Serangan peretasan masif seperti ini adalah mimpi buruk bagi perusahaan media seperti Funke, yang mempekerjakan sekitar 6.000 orang di seluruh Jerman, kata para ahli.

Organisasi Media Terbesar Jerman Lumpuh Diserang Hacker Misterius

Funke Mediengruppe adalah salah satu kelompok media terbesdar di Jerman

Jaringan komputer yang diserang hacker harus “dikarantina”.

Funke Media Group tidak mengomentari laporan media lain bahwa para peretas menuntut uang tebusan untuk dibayarkan dalam Bitcoin. Jaksa dan polisi negara bagian saat ini masih melakukan penyelidikan.

Perusahaan media itu mengatakan, mereka bekerja dengan tim ahli dan konsultan IT untuk membangun “karantina jaringan komputer” dan mengisolasi jaringan itu dari akses eksternal.

Thorsten Urbanski dari perusahaan keamanan ESET mengatakan, hal seperti ini memang ” terjadi terus-menerus, dan sekarang bahkan menjadi semacam model bisnis.” Para peretlas internasional, yang seringkali bahkan tidak saling mengenal, bisa bekerja sama dalam tim yang terdiri dari tiga sampai 20 orang untuk melakukam serangan peretasan skala besar.

“Pembagian kerja di atur secara profesional. Satu tim mengembangkannya, tim lain mendistribusikannya, lalu ada juga pembayarannya, biasanya dengan bitcoin.”

Serangan ransomware” semacam ini mudah terjadi ketika ada satu karyawan misalnya, membuka lampiran email yang salah. Seringkali email tidak terlihat berbahaya dan penyamarannya cukup masuk akal – umum seperti lamaran kerja yang berisi dokumen Word atau PDF. Atau file yang di beri label sebagai resume, tetapi file semacam itu sering kali datang sebagai faktur atau tautan ke dropbox. Yang di simpan di dropbox yang bisa di unduh.Lotto03

Baca Juga IndoPK.com Agen Poker Online, Domino QQ dan Bandar Ceme Terpercaya

“Sebenarnya tekniknya biasa saja,” kata Christian Beyer dari perusahaan pengaman IT Jerman Securepoint. “Anda membuka dokumen Word, dokumen tersebut berisi makro, dan makro mengunduh malware dari internet.”

Minta uang tebusan?

Pada September 2020, serangan peretasan sempat melumpuhkan sistem komputer di Rumah Sakit Universitas di Düsseldorf. Menurut laporan media, para peretas sebenarnya bermaksud menyerang universitas, bukan rumah sakitnya. Namun serangan itu turut melumpuhkan jaringan kritis di rumah sakit. Para peretas akhirnya merilis kode de-enkripsi, ketika polisi memberi tahu mereka bahwa nyawa orang berada dalam bahaya dengan lumpuhnya sistem medis. Dalam kasus Düsseldorf, jaringan komputer di yakini sudah di bobol virus sembilan bulan sebelumnya.

Masih belum jelas, seberapa sering korban serangan peretasan fatal akhirnya bersedia membayar uang tebusan. “Mereka yang membayar tidak mau membicarakannya,” kata Christian Beyer. “Itu juga tidak di sarankan, karena nanti akan ditandai. Orang yang pernah membayar satu kali, akan membayar lagi kemudian hari.”

Dapat di mengerti kalau ada perusahaan yang akhirnya membayar uang tebusan. Operasi karantina jaringan komputer untuk menyiapkan sistem baru yang terpisah dan tidak tercemar, adalah operasi mahal yang menguras tenaga dan sumber daya. Bagi perusahaan kecil atau menengah, tidak banyak pilihan selain menyerah pada tuntutan peretas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.