Banyak Pasien Sembuh COVID-19 Alami Gangguan Penciuman Parosmia

Banyak Pasien Sembuh COVID-19 Alami Gangguan Penciuman Parosmia

Hallo sahabat setia semuanya kembali lagi bersama MAINGAME88 yang selalu setia meberikan kabar dunia terbaru dan terpopuler.
Kabar berita kali ini MAINGAME88 kutip dari kabar dunia yaitu Banyak Pasien Sembuh COVID-19 Alami Gangguan Penciuman Parosmia

Banyak Pasien Sembuh COVID-19 Alami Gangguan Penciuman Parosmia

Banyak Pasien Sembuh COVID-19 Alami Gangguan Penciuman Parosmia, Clare bersama putri tertuanya. Baginya parfum tercium seperti bau busuk.

 

MAINGAME88 – Banyak orang yang tertular Covid-19 terganggu penciumannya sementara. Ketika mereka pulih, kondisi ini biasanya kembali terjadi.
Namun bagi sebagian orang, penciuman mereka berubah. Aroma enak seperti makanan, sabun dan orang-orang terdekat berubah seperti layaknya bau menjijikkan.Lotto03

Baca juga: Lotto03.com Bandar Togel Online Terbesar & Terpercaya

Kondisi seperti ini disebut parosmia dan semakin banyak orang yang mengalami. Tetapi para ilmuwan masih belum memahami mengapa gangguan ini bisa terjadi dan bagaimana pengobatannya.

Salah seorang yang mengalami adalah Clare Freer, dari Sutton Coldfield, Inggris.

Setiap kali masak untuk keluarganya, ia merasa sangat tertekan.

“Saya pusing karena bau. Bau busuk memenuhi rumah begitu kompor saya nyalakan dan tidak tertahankan,” katanya.

Perempuan berusia 47 tahun ini telah mengalami parosmia selama tujuh bulan dan setiap hari banyak hal yang menurutnya mengeluarkan bau busuk.

Bawang, kopi, daging, buah, minuman beralkohol, pasta gigi, produk pembersih dan parfum, semua membuatnya ingin muntah.

Air keran juga mengeluarkan bau yang sama baginya, sehingga sulit baginya untuk mencuci.

“Saya bahkan tak bisa mencium suami saya lagi,” tambahnya.

Clare tertular virus corona bulan Maret tahun lalu dan seperti banyak orang lain, ia kehilngan indera perasa.

Penciumannya kembali normal sesaat pada Mei tahun lalu namun pada bulan Juni, Clare menolak makanan favorit yang dia pesan karena tercium seperti parfum basi.

Setiap kali, ada makanan yang dimasukkan ke oven, bau yang tercium adalah produk kimia yang terbakar.

Sejak pertengahan tahun lalu, Clare hanya makan roti dan keju karena hanya dua makanan itu yang bisa ia telan.

“Saya tak punya energi dan seluruh badan sakit,” katanya.

Kondisi ini juga mempengaruhi kondisi emosinya dan ia sering menangis.

“Walaupun anosmia (kondisi tak bisa merasa dan mencium) tak enak, saya masih dapat melanjutkan hidup seperti biasa dan tetap minum dan makan,” kata Clare.

“Saya akan hidup dengan kondisi itu selamanya, jika itu bisa membuat saya tak mengalami parosmia.

Bau comberan campur aroma buah.

Dokter yang biasa menangani Clare mengatakan ia tidak pernah mendiagnosis pasien dengan kondisi seperti ini.

Dengan kondisi seperti itu, dalam keadaan bingung dan takut, Clare mencari tahu berbagai informasi melalui internet dan menemukan grup di Facebook dengan anggota 6.000 orang yang di bentuk oleh yayasan bagi mereka yang kehilangan indera perasa, AbScent.

Semua orang di grup itu mulai dengan anosmia setelah tertular Covid-19, dan berakhir dengan parosmia.

“Yang biasa di gambarkan dari penciuman penderita parosmia adalah: kematian, busuk, daging busuk, kotoran. Kata pendiri AbScent, Chrissi Kelly, yang mendirikan grup itu pada Juni lalu setelah apa yang ia gambarkan “gelombang” kasus parosmia akibat Covid-19.

Ada yang menggambarkan sebagai “bau comberan bercampur bau buah,” “bau sampah basah” dan bau “anjing basah.”

Terkadang, para penderita kesulitan untuk menggambarkan bau yang mereka cium karena tak pernah mencium bau itu sebelumnya. Mereka menggunakan kata-kata yang menggambarkan perasaan jijik.

Sekitar 65% orang yang kehilangan indera perasa dan penciuman dan sekitar 10% di antaranya mengalami apa yang di sebut “qualitative olfactory dysfunction”, yang artinya parosmia atau kondisi lain, phantosmia.

Kondisi ini adalah bila seseorang mencium sesuatu yang tak ada.

Bila data ini benar, berarti 6,5 juta dari 100 juta orang yang terkena Covid-19 di dunia kemungkinan mengalami parosmia dalam jangka panjang

Dr Jane Parker, ilmuwan yang mendalami indera perasa di Universitas Reading, mempelajari parosmia sebelum pandemi, saat kasus ini masih sangat jarang terjadi.Lotto03

Baca Juga IndoPK.com Agen Poker Online, Domino QQ dan Bandar Ceme Terpercaya

Satu teori terkait pengalaman mencium bau busuk oleh mereka yang menderita parosmia adalah mereka hanya dapat mencium salah satu bagian bahan yang terkandung. Bau yang mereka cium kemungkinan bisa memburuk.

Misalnya, kopi mengandung sulfur yang tercium enak bila di kombinasikan dengan molekul lain yang memberikan aroma enak. Namun tentu berbau tak enak, bila hanya sulfur yang tercium.

Dari pengalaman anggota dalam group AbScent, Park dan timnya menemukan bahwa daging, bawang, bawang putih dan coklat menimbulkan reaksi buruk. Begitu juga dengan kopi, sayur, buah, air keran dan wine atau minuman anggur.

Sebagian besar benda lain berbau busuk bagi sebagian sukarelawan dan tak ada yang berbau enak kecuali “mungkin kacang almond dan buah cherry.

Mereka sering menggambarkan bau seperti halnya bahan kimia dan bau asap, agak manis dan ada juga yang menyebut mencium bau “muntah.”

Penelitian Parker juga menunjukkan bau busuk akan tetap dialami penderita parosmia pada waktu yang lama.

Bagi sebagian besar orang, bau kopi dapat bertahan selama beberapa detik, namun bagi penderita parosmia dapat bertahan berjam-jam atau bahkan berhari-hari.

Bau kamar mandi tercium enak dan dapat dinikmati

Barry Smith, peneliti di Inggris di Global Consortium for Chemosensory Research, mengatakan temuan yang mengejutkan adalah apa yang ia sebut “tipuan” dari parosmia.

“Bagi sebagian orang, popok bayi dan bau kamar mandi tericum enak, dan bahkan dinikmati,” katanya.

“Tampaknya seolah bau kotoran manusia seperti makanan dan makanan tercium seperti kotoran manusia,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.