Pengalaman aku yang bersetubuh dengan 2 mama muda

Pengalaman aku yang bersetubuh dengan 2 mama muda

 

Hai sobat Sexy18 semuanya. Pada kesempatan kali ini saya ingin menceritakan pengalaman aku yang bersetubuh dengan 2 mama muda.

Ini adalah pengalaman yang aku dapatkan ketika masih bujang,saat itu umurku mungkin sekitar 23 tahun. Aku kost ke sebuah tempat yang memang khusus untuk anak kost,ada sekitar 20 an kamar berjejer terdiri atas dua Lotto03 bangunan bertingkat 2. Penghuninya campur antara yang bujangan dan yang berkeluarga.

Kebetulan kamarku ada pada lantai bawah yang menurutku punya fasilitas paling komplit (maksudnya bisa jemur pakaian pada belakang kamar karena ada lorong terbuka yang tersisa pada bagian belakang bangunan yang aku tempati itu. Dari lorong ini pulalah kisah ini berawal).

Tetangga sebelah kiri dan kanan kamarku adalah pasangan yang berkeluarga. Ada bapak dan bu Evi (karena anaknya namanya Evi) keluarga dengan satu anak perempuan sebelah kiri kamarku. Dan keluarga mas Anto dan mbak Fiah (begitu aku memanggil mereka) sebelah kanan kamarku, keluarga muda dengan satu anak perempuan juga yang berumur sekitar 2 tahunan.

Aku memang tidak begitu mengenal dengan tetangga lainnya,karena memang sangat jarang bertemu. Umumnya mereka mengurung diri dalam kamar,oleh sebab itu aku pun tidak mengetahui kegiatan mereka. Aku sendiri bujangan yang baru mulai bekerja pada sebuah perusahan yang cukup bonafid.

 

  • Awal pengenalan diriku

Hari-hariku biasanya aku habiskan pergi sama teman teman, Oleh itu sebabnya aku jarang berinteraksi dengan tetangga kostku. Bu Evi orangnya kecil mungil, kulit hitam manis tapi punya toked yang agak berlebihan sehingga kalo lama alu perhatikan seperti agak menantang (dasar mupeng). Sedangkan mbak Fiah,punya perawakan sintal, kulitnya putih bersih,wajahnya juga sangat mempesona (masuk katagori cantik), ramah dan banyak senyum. Aku sendiri sering dapat senyuman nya.

Tidak tahu mengapa aku sering cari kesempatan untuk bertemu muka biar kecipratan senyum manisnya. Aku sendiri cukup akrab dengan mas Anto karena kantor kami bersebelahan. Mas Anto bekerja sebagai Security. Seringkali oleh sama mbak Fiah meminta bantuanlu untuk menjaga si kecil entah kalau dia lagi sibuk dengan pekerjaan rumahnya,dan aku dengan senang hati melakukannya.

Sebagai imbalan biasanya aku menitip cucian baju sepotong dua potong. Merekalah dua wanita yang menjadi topic ceritaku nanti.

Baca juga : Lotto03.com Bandar Togel Online Terbesar & Terpercaya

  • Episode Mbak Fiah

Pada suatu hari aku pulang malam sekitar jam 2an dan aku ingat sekali bahwa hari itu adalah malam minggu. sehabis jalan sama teman temanku,aku bermaksud mengambil jemuran ke belakang kamar yang sore tadi sama mbak Fiah cucikan, takut kena hujan nanti  menjadi bau.

Aku merasa ada yang tidak biasa. Karena depan pintu kamar belakang mbak Fiah aku melihat sepasang sandal yang aku yakin bukan punya mas Anto. Penasaran aku balik ke depan mencari motor mas Anto,hanya ingin memastikan kalo mas Anto benar tidak di rumah karena setahuku hari itu mas Anto tugas malam. Dan benar dugaan ku motor mas Anto tidak ada pada tempatnya.

Aku kembali kekamarku menunggu,dengan suasana hati yang tak menentu aku hanya berharap tahu siapa gerangan pemilik sandal yang telah mengisi malam sepinya mbak Fiah. Aku tak beranjak jauh dari pintu belakang kamarku dan sengaja kubuka sedikit supaya aku bisa mengintip kearah pintu belakang mbak Fiah. 15 menit berlalu aku mendengar suara daun pintu berderit meskipun sangat pelan tapi cukup membuatku segera mengambil posisi yang telah kupersiapkan. Aku melihat sosok mbak Fiah keluar kemudian melihat kiri kanan mungkin memastikan keadaan aman, setelah itu kulihat dia memberi kode kedalam maka keluarlah sesosok lelaki yang sangat aku kenal.

Pak Evi yang merupakan tetangga sebelahku dan tentu saja aku tersurut kaget karena  tidak menyangka dan setengah tidak percaya dengan apa yang kusaksikan. Setelah keadaan tenang aku kembali ketempat tidurku. Ada scenario dalam kepalaku dan aku pun tersenyum sendiri. Keesokan harinya seperti biasa aku telat bangun,maklum hari minggu.

 

Masih terbayang peristiwa semalam dan rencana yang telah kususun. Aku bersemangat bangun dan langsung menuju lorong belakang aku berharap ketemu mbak Diah,tapi aku harus kecewa karena mbak Fiah tidak ada muncul. Tak apalah masih banyak waktu,dan aku segera menyambar handukku masuk kamar mandi sambil bernyanyi kecil. Habis mandi aku bermaksud membuang waktu dengan duduk ke beranda kamar ku ngopi dan sekalian melihat keadaan tetangga tetanggaku. Heran aku juga tidak melihat bu Evi hari itu.

Selang beberapa saat kulihat mbak Fiah datang,rupanya dia baru habis berbelanja ke warung.

“Eh dek Hadi .. udah bangun ya…” sapa mbak Fiah ramah seperti biasanya.

“Iya mbak, mas Anto masih tidur?” tanyaku balik

“Iya nih, mas Anto baru pulang pagi,kan tugas malam” katanya menerangkan

“oh iya… mbak gak ada acara nyuci hari ini? Nitip dong mbak”

“Boleh dek,tapi ntar ya abis masak, tapi jagain Endah ya”

“Siip” kataku

Aku pun mengambil alih endah dari mbak Diah, aku setelkan dia lagu anak-anak dari DVD portable ku maka endah pun bernyanyi nyanyi sendiri. Selang beberapa lama kudengar mbak Fiah memanggil lewat pintu belakangku.

“Dek Hadi… mana cuciannya?”

“itu mbak yang di belakang,sudah saya rendam dari semalem” sahutku menimpali.

Aku segera beranjak ke belakang,saatnya memulai rencana. Perlahan kudekati mbak Fiah memberi kode agar dia mendekat. Mbak Fiah pun menghampiriku…

“Semalam aku melihat sesuatu disini” bisikku.

Sengaja membuatnya terkejut dan reaksinya memang seperti yang kuharapkan,Mbak pun lebih mendekat.

“Lihat apa dek?” mbak Fiah ikutan berbisik.

“Ada deh.. “ godaku.

Merah padam mukanya mbak Fiah. Tapi dia segera menguasai diri. Dia taruh telunjuknya ke atas bibir.

“Nanti aja kita omongin” bisiknya lagi.

“Siip” kataku sambil mengangkat jempol.

 

Aku memulai hayalanku sambil tiduran dengan perasaan menang,yakin akan mendapat sesuatu. Pikiranku sedemikian jauhnya sampai tak sadar aku tertidur dan lupa makan. Tidak lama kemudian setengah sadar aku mendengar pintu kamarku ada yang ketok. Aku bangkit dari tempat tidur dan yang pertama kurasakan adalah perutku yang minta makan. Kulirik jam tanganku,rupanya sudah jam setengah tiga sore pantesan terasa sangat lapar. Tetapi kembali kudengar pintuku ada yang ketok.

Aku bergegas membuka pintu,rupanya mbak Fiah yang sedari tadi mengetok pintu.

“ya mbak… ada apa?” tanyaku

“ini mau nganterin makanan,tadi mbak masak lebih terus mbak lihat dari tadi kamu gak keluar rumah pasti belum makan” katanya sambil mengulurkan sepiring nasi komplit dengan lauknya.

“iya juga mbak, aku ketiduran,mas anto udah bangun?”

“Sudah tuh … lagi pergi sama endah kerumah temennya”

“ooh… berarti udah aman ya…” kataku sambil mengedipkan mata

“kamu itu bikin mbak penasaran,memang liat apa semalem” katanya masih berpura pura.

“ntar aku cuci tangan dulu, tak ceritain sambil makan ya” aku bergegas menaruh makanan di meja kecil di beranda dan masuk untuk cuci tangan, kubiarkan mbak diah penasaran menungguku.

“ayo ngomong adek lihat apa semalam” mbak Fiah langsung menyerangku begitu aku mulai menyantap makanan,aku hanya senyum senyum sambil asyik menghabiskan makananku.

“cepetan dong, ntar mas anto keburu pulang” pintanya memelas.

Akhirnya aku pun menceritakan apa yang kulihat,termasuk mengetahui siapa adanya lelaki pemilik sandal. Lama mbak Fiah terdiam sampai akhirnya…

“Dek,kamu bisa simpan rahasia ini kan?, mbak tidak mau mas anto sampai tahu,kamu pasti tahu akibatnya buat mbak” lagi lagi dia meminta dengan memelas.

“tenang aja mbak, aku bisa jaga rahasia kok. Tapi aku juga bakal minta sesuatu dari mbak” jawabku

“kamu jangan memeras mbak ya,kamu kan tahu mbak nggak punya uang”

“aku nggak minta uang kok” selaku

“trus kamu minta apa”

“aku minta sesuatu yang mbak punya dan bisa kasih” kataku sambil memberi kode ke arah dadanya

“hah… kamu mau sama mbak?”

“kenapa? Mbak nggak mau ngasih”

“Bukan gitu, mbak kan udah punya anak… emang kamu mau?”

“ah… aku kan pingin yang berpengalaman” kataku cekikikan.

“ya deh… kalo itu mbak bisa kasi, tapi jangan paksain ya… liat keadaan, jangan sampai mbak celaka”

“oke, aku juga pasti menjaga mbak kok.. tenang aja”

“omong omong bu evi kemana? Kok pak evinya bisa lepas?”

“ooh, biasa tiap sabtu mbak evi nginap di rumah orang tuanya karena harus gantian ama saudaranya jagain orang tuanya yang udah tua”

“itu sebabnya ya… he..he..”

“ya … biasanya sabtu pak evi anterin,nanti minggu jemput lagi”

“ngerti deh” kataku sambil mengejapkan mata, dan mbak Fiah pun tersenyum malu.

“ntar malam mas Anto shift malam lagi gak?” tanyaku

“iya… kenapa? Kamu mau ntar malem?”

“kalo boleh sih…”

“lihat keadaan ya..”

“oke…”

Begitulah akhir dari transaksiku, aku tinggal menunggu hadiah yang mbak Fiah janjikan tiba. Waktu yang kutunggu pun tiba,dari balik pintu kamarku aku mendengar suara motor mas anto menjauh dan mbak diah berdiri pada beranda melepas suaminya berangkat kerja. Setelah motor gak terlihat aku keluar kamar. Mbak Fiah menoleh kearahku sambil berbisik.. “endah belum tidur, ntar mbak kasi kode” sambil menganggukkan kepala, aku pun mengerti.

Menunggu sekitar 30 menit kudengar tembok ada yang ketok,inilah kodenya pikirku, dan aku bergegas ke arah belakang. Aku tidak mau kecolongan seperti pak evi, jadi kudekati pintu belakangnya mbah Fiah tanpa sandal. Langsung kubuka pintu perlahan yang ternyata tidak terkunci. Pemandangan yang tersuguhkan dalam kamar sungguh membuatku terpana,mbak Fiah tiduran dengan mengenakan baju tidur yang amat tipis, ikatan tali pinggangnya tak cukup menutupi dadanya yang terbuka tanpa mengenakan BH,sehingga terpampanglah belahan bukitnya yang indah. Aku sudah sering melihat belahan dadanya ketika sedang menjemur pakaian ataupun menyapu halaman, tapi malam ini sungguh sangat menggairahkan. Mbak Fiah hanya tersenyum.

“sudah puas melihat ini” katanya sambil menunjuk ke arah dadanya

“mungkin aku harus memegangnya” gurauku sambil mendekat.

Langsung saja kubuka bagian atas bajunya dan langsung kunikmati dada montok yang telah menantiku itu. Pelan kuremas sementara bibirku mencari-cari putingnya yang lain. Aku puaskan diriku menciumi buah dada mbak diah, sementara ,mbak pun mulai merintih pelan.

“dek, mbak pingin liat barangmu” bisiknya disela-sela pergumulan kami.

“penasaran ya?”

“mmh” tangan mbak Fiah langsung meluncur kearah selangkanganku, dia berhenti ketika menggenggam penisku dari balik celana yang masih kupakai, mengenggamnya beberapa kali,mungkin membanding bandingkan milikku dengan suaminya atau pak evi.

“kayaknya gede juga ya…” katanya

“kalau mau lihat aslinya buka aja mbak,aku gak keberatan kok” kataku

Mbak Fiah langsung membalik posisi,dia ke atas menindihku,kemudian sedikit demi sedikit menurunkan wajahnya kearah perutku. Akhirnya mencapai tonjolan selangkanganku.meraba dengan halus membuatku jadi merinding dan tentu saja adek kecilku langsung melonjak,mbak mulai menggenggam perlahan dan seperti sangat menikmati,perlahan mbak membuka celanaku,tanpa basa basi penisku melonjak keluar. Mbak diah tersenyum kearahku,mulai mencium penisku pertama dengan ujung hidung, kemudian berlanjut dengan bibirnya. Serasa meledak mendapat perlakuan sopan seperti itu. Perlahan bibir mbak Fiah terbuka,kemudian mengarahkan kepala penisku kemulutnya,pintar sekali mbak Fiah membuatku melayang. Sekarang penisku sudah sepenuhnya dalam kulumannya, terasa jilatan lidah mbak Fiah sesekali menyentuh ujung penisku,membuat aku sudah lupa diri. Tiba tiba mbak Fiah keluarkannya penisku dari dalam mulutnya. Ahh… aku langsung sadar kembali.

“Besar juga…” bisiknya Aku hanya tersunyum puas dengan ucapannya.

“mbak… buka dong

“sabar sayang, kita banyak waktu kok”

“ya mbak.. tapi aku dah mau meledak nih”

mbak Fiah tertawa kecil mendengar kataku.

“kamu yang buka ya…” sekali lagi aku membalik posisi, kali ini mabak Fiah tidur dengan pemandangan indahnya. Aku mulai membuka baju tidurnya perlahan sambil sesekali mengecup puting mbak yang indah dan sudah sedemikian menantangnya. Aku hanya mendengar desahan-desahan yang semakin membangkitkan nafsuku dari bibir mbak Fiah. Sekarang yang tampak adalah tubuh tanpa sehelai benang yang siap menantiku. aku terus melanjutkan gerilya mulutku ke sekujur tubuh mbak Fiah,tanganku pun mulai melepas celanaku dan langsung kulemparkan tanpa peduli jatuh ke mana. Kugesekkan penisku ke selangkangan mbak diah. Kali ini aku sengaja mengulur waktu bermaksud membuat mbak diah penasaran. Pinggul mbak Fiah mulai bergerak liar. Tampak mbak berusaha mencarikan lobang untuk penisku yang kini sangat tegang.

“ayo dek Masukin sayang, mbak udah nggak tahan”

“bantuin dong mbak” kataku pula.

Mbak Fiah mulai mencari penisku lagi, setelah dalam genggamannya, dia mulai mengarahkannya ke liang kenikmatannnya. Aku mengimbangi dengan melakukan sedikit penekanan. Agak susah masukknya.

“kok susah masuknya mbak”

“punyamu kegedean, mmmh … pasti nikmat nih” mbak mendesis.

Akhirnya dengan bantuan tangan mbak diah penisku mulai memasuki vaginanya mbak diah yang hangat dan basah. Aku tidak mau terburu-buru,jadi kugerakkan perlahan penisku ke dalam vaginanya mbak Fiah sambil menikmati setiap gesekannya, desahan mbak Fiah juga memberi sensasi tersendiri. Mbak Fiah pun selalu memberi gerakan pinggul yang menambah kenikmatan yang kurasakan malam itu. Aku bertahan dengan gaya itu beberapa saat sampai akhirnya… “aduh dek… mbak mau keluar, kasi mbak keluar dulu ya…” katanya tanpa memberi kesempatan aku untuk menjawab, tangan mbak diah menekan pinggangku sampai seluruh penisku terhisap kedalam vaginanya, mbak terus meracau tak jelas, tapi aku tahu mbak sedang dalam puncak puncaknya.

Aku merasakan dinding vagina mbak Fiah berdenyut denyut seperti mencengkram penisku kuat kuat. Aku biarkan mbak menikmati sesaat sampai pegangan ke pinggangku agak kendor.

“maaf ya dek.. mbak gak tahan,habis penismu enak banget, vagina mbak rasanya penuh” katanya Begitulah malam itu kami melanjutkan petualangan.

 

  • Episode Bu Evi

Mungkin karena kelelahan atau terlalu puas,pagi itu aku bangun agak terlambat. Aku mandi dengan terburu buru. Dengan hanya handuk melilit tubuh aku kebelakang kamar mencari pengganti CD, tak peduli keadaan sekeliling aku ganti CD ke belakang kamar.

Tiba tiba aku mendengar suara seseorang menjerit. Rupanya bu evi baru keluar dari kamarnya dan hendak menjemur pakaian kaget melihatku telanjang. Aku juga kaget, handukku jatuh dan CD yang mau kupakai baru sebatas lutut. Lama tertegun aku lupa kalau penisku masih bergelantungan.

“maaf bu, kirain gak ada orang” kataku

“iya.. iya tapi kok gak buru buru adek tutupin, mau pamer ya”

Wah aku tersentak dan langsung merapikan CD ku. Untung bu evi gak marah dan malah menggodaku.

“anu bu, aku kesiangan jadi gak konsen, maaf ya bu” kataku lagi

“gak apa apa,mbak juga gak nyangka dapat pemandangan gituan pagi-pagi” katanya tersenyum sambil menatap ke arah penisku.

Aku jadi kepingin iseng menggoda, maklum aku juga suka dengan body bu Evi yang selalu mengundang terutama toketnya.

“kalo mau bukan cuma pemandangan yang bisa adek nikmati, barangnya juga bisa kok”

“yee…. Udah sana ntar telat kerjanya” katanya mengingatkan.

Ternyata mbak Evi gak marah, dan menurut feelingku kayaknya mbak juga ada minat dengan penisku setelah apa yang mbak lihat. Aku bergegas masuk kamar dan cepat cepat berpakaian sekenanya,sebelum berangkat aku mencoba mengisengi bu evi sekali lagi. “ntar kita lanjutkan lagi ya mbak ” kataku sambil melongokkan kepala dari pintu kamarku.

“hus cepat kerja sana…” bu evi memonyongkan bibirnya sambil tersenyum manis dan menurutku itu sangat menggoda. Aku tidak konsentrasi di tempat kerja, bayangan godaan bu evi gak bisa lepas dari otakku. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, aku minta ijin bosku untuk pulang dengan alasan nggak enak badan. Aku hanya ingin segera menyelesaikan urusanku dengan bu evi. Memasuki rumah kost, yang pertama kucari adalah motor pak evi,meskipun aku tahu dia biasa kerja pagi tapi aku harus memastikan. Yakin aman, aku masuk kamar dan langsung membuka pintu belakangku. Sepi…. Jam jam segini orang sedang kerja, kalaupun ada dalam rumah paling juga mengurung diri dalam kamar,Mbak Fiah pasti masih ngurus suaminya yang baru bangun habis kerja malam.

Aku melangkah kepintu belakang bu evi, perlahan ku ketok pintunya. Dan aku juga sudah menyiapkan alasan jika hal yang tidak teringinkan terjadi. Pada ketukan kedua aku mendengar langkah kaki mendekati pintu.

“Ada apa dek” tanya mbak dengan tersenyum.

“itu…. mau melanjutkan yang tadi” kataku

“kamu nekat ya… pasti bolos ya… “ cecarnya tapi dengan suara berbisik

“kan udah janji” aku menyahut bodo bodohan.

“kamu serius?”

“ya.. iyalah, masa nggak” aku udah kepalang menjawab mbak memperhatikan sekeliling.

“masuk sini, nanti terlihat oleh orang” katanya.

Aku berjingkrak gembira. Ternyata apa yang aku pikirkan tidak meleset. Mbak memberi jalan kepadaku.

“ssst… jangan keras keras, Evi lagi tidur” bisiknya “kamu mau apa?”

“kan mbak udah ngerti… masa adek jelasin lagi” kataku nyengir

Lama mbak terdiam. Tapi akhirnya tersenyum lagi.

“rahasia kita berdua ya… jangan sampai orang lain tahu” katanya

“iya lah mbak … masa aku mau bikin perkara”

“sama ingat… ini cuman buat senang senang saja, tidak ada perasaan. Aku nggak mau paksa ya..”

“ya mbak, saya setuju”

Dengan demikian mulailah petualangan baru dengan bu evi hari itu. Sejak lama aku mengagumi toket bu evi ini,maka tak kusia siakan hari itu untuk menikmati sepuasnya. Aku menyusu seperti anak kecil hanya bedanya dengan tambahan desahan desahan kecil bu evi. Tubuh hitam manis itu sudah ku miliki sekarang . aku membenamkan wajah ku ke belahan toket bu evi. Kunikmati aromanya, aku sangat bergairah. Begitupula bu evi. Kami telah telanjang bulat dan aku bersiap mencari akhir dari permainan ini. Genjotan ku selalu mendapat perlawanan dahsyat. Bu evi bertahan cukup lama, beda dengan mbak Fiah. Lubang memeknya lebih lengket tidak terlalu banyak cairan. Yang lebih dari memek bu evi ini adalah aku merasa penisku susah untuk kucabut seperti ada yang menyedot dari dalam, dan senyum bu evi pun tak henti hentinya terpampang.

“aku ke atas ya..” tiba tiba mbak menghentikan gerakanku. Dan tanpa menungggu persetujuanku mbak pun berguling, dengan posisi ke atas mbak mulai mengatur irama genjotan.

“kamu diam saja,nikmati saja ya” katanya dan akupun hanya mengangguk. Bu evi mulai dengan gayanya sendiri,meluruskan kakiku dan meninggalkan penisku tegak, perlahan mbak mengangkangi penisku. Dengan bantuan tangannya lalu memasukan penisku ke dalam vaginanya,pelan tapi habis sampai ke pangkal. Mbak pun mendesah. Aku merasa ujung penisku ada yang mengganjal seperti mentok. Kembali bu evi tersenyum.

Mbak pun mulai bergerak naik turun sehingga aku dapat memandangi seluruh tubuhnya sekarang. Toket besarnya ikut naik turun mengikuti irama gerakan pantatnya. Hanya beberapa menit aku bertahan seperti itu. Aku merasa penisku panas dan terasa laharku sebentar lagi akan menyembur.

“mbak… aku udah mau keluar” aku memperingatkan.

“iya sayang aku juga mau… kita sama sama ya…” nafas bu evi mulai memburu, mbak mempercepat gerakannya, dan aku berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak muncrat duluan.

Aku ingin memberi kesan bahwa aku tidak kalah dari mbak. Sempat aku kaget ketika bu evi menghempaskan tubuhnya ke atas dadaku sambil berkata.. “aku keluar….. aku keluar…” dengan dekapan yang sangat erat mbak mengejang beberapa kali. Dan aku berniat segera menyusulnya.

“mbak … aku keluar” aku bermaksud mencabut penisku tapi mbak menahanku.

“lepaskan ke dalam saja sayang … aku mau merasakan kehangatan sperma kamu” katanya

Kutarik wajah bu evi, dan aku melumat bibirnya, sementara penisku mulai memuntahkan isinya dalam memek bu evi. Dia benar benar tahu apa yang harus dilakukan. Dia memutar pantatnya seperti hendak menguras habis isi penisku. Aku tersenyum puas.

“makasih mbak… mbak hebat sekali”

“kamu juga hebat sayang… kamu memberiku kepuasan yang berbeda hari ini, lain kali mbak boleh minta kan?”

“dengan senang hati mbak” jawabku sambil memberi kecupan ke bibirnya.

Baca juga : INDOPK.COM Agen poker online,Domino QQ dan Bandar Ceme Terbaik & Terpercaya

Aku mengakhiri hari itu dengan senyuman, dan beristirahat dengan lelap. sempat ku bermimpi membawa kedua wanita tetanggaku kedalam kamarku dan kami main bertiga.

Namun demikian kami masih tetap berkomumikasi dan sesekali melakukan pertemuan dan melanjutkan petualangan kami. Hanya saja tidak bisa sesering ketika masih bertetangga. Sekian dulu ya kawan ceritaku, lain kali aku juga pingin cerita tentang petualangan lanjutan baik dengan bu evi ataupun mbak Fiah yang kayaknya seru untuk aku ceritakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *