Cerita Bercinta Dengan Kakak Iparku

Sexy18 Cerita seks dengan kakak Ipar ku, bekerja sebagai Auditor dalam perusahaan swasta memang sangat melelahkan. Tenaga, pikiran, semuanya terkuras, apalagi kalau ada masalah keuangan yang rumit dan harus segera dyselesaikan. Mau tidak mau, seperti rasanya harus mengeluarkan seluruh isi pikiran.

Akibat dari tekanan pekerjaan yang demikian itu membuatku akrab dengan gemerlapnya dunia malam terutama jika weekend. Biasanya bareng teman sekantor aku berkaraoke untuk melepaskan beban. Kadang ke ‘sini’, kadang ke ‘sana’, dan selanjutnya, benar-benar malam untuk menumpahkan “beban”.

Maklum, aku sudah berkeluarga dan punya seorang anak, tetapi mereka kutinggalkan dy kampung karena istriku punya usaha dagang dy sana. Tapi lama kelamaan semua itu membuatku bosan. Ya dy Jakarta ini, walaupun aku merantau, ternyata aku punya banyak saudara dan karena kesibukan (alasan klise) aku tidak sempat berkomunikasi dengan mereka.

Cerita Bercinta Dengan Kakak Iparku

Cerita Bercinta Dengan Kakak Iparku

Akhirnya kuputuskan untuk menelepon Mas Adyt, sepupuku. Kami pun bercanda ria, karena lama sekali kami tidak kontak. Mas Adyt bekerja dy salah satu perusahaan minyak asing, dan saat itu ia memberi tau kalau minggu depan dytugaskan perusahaannya ke tengah laut, mengantar logistik sekaligus membantu perbaikan salah satu peralatan rig yang rusak.

Dan ia memintaku untuk menemani keluarganya kalau aku tidak keberatan. Sebenernya aku males banget, karena rumah Mas Adyt cukup jauh dari tempat kostku. Aku dy bilangan Ciledug, sedangkan Mas Adyt dy Bekasi. Tapi entah mengapa aku mengiyakan saja permintaannya, karena kupikir-pikir sekalian silaturahmi. Maklum, lama sekali tidak jumpa.

Hari Jumat minggu berikutnya aku dytelepon Mas Adyt untuk memastikan bahwa aku jady menginap di rumahnya. Sebab kata Mas Adit istrinya, mbak Lala, senang kalau aku mau datang. Hitung-hitung buat teman ngobrol dan teman main anak-anaknya. Mereka berdua sudah punya anak laki-laki dua orang. Yang sulung kelas 4 SD, dan yang bungsu kelas 1 SD.

Usia Mas Adyt 40 tahun dan mbak Lala 38 tahun. Aku sendyri 30 tahun. Jady tidak beda jauh amat dengan mereka. Apalagi kata Mbak Lala, aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumahnya. Terutama semenjak aku bekerja dy Jakarta ini. Ya, tiga tahun lebih aku tidak berjumpa mereka. Paling-paling cuma lewat telepon.

Setelah makan siang, aku telepon mbak Lala, janjian pulang bareng. Kami janjian dy stasiun, karena mbak Lala biasa pulang naik kereta. “Kalau naik bis macet banget, lagian sampe rumahnya terlalu malem”. Begitu alasan mbak Lala, dan jam 17.00 aku bertemu mbak Lala dekat stasiun, tak lama, kereta yang dytunggu pun datang. Cukup penuh, tapi aku dan mbak masih bisa berdyri dengan nyaman. Kami pun asyik bercerita, seolah tidak mempedulikan kiri kanan.

Tapi hal itu ternyata tidak berlangsung lama lepas stasiun J, kereta benar-benar penuh. Mau tidak mau posisiku bergeser dan berhadapan dengan Mbak Lala. Inilah yang kutakutkan, beberapa kali karena goyangan kereta, dada montok mbak Lala menyentuh dadaku. Ahh,darahku rasanya berdesir, dan mukaku berubah agak pias.

Rupanya mbak Lala melihat perubahanku dan ini konyolnya ia mengubah posisi dengan membelakangiku. Alamaakk, siksaanku bertambah karena sempitnya ruangan, si “junior” ku menyentuh pantatnya yang bulat manggairahkan. Aku hanya bisa berdoa semoga “junior” tidak bangun.

Kami pun tetap mengobrol dan bercerita untuk membunuh waktu. Tapi, namanya laki-laki normal apalagi dytambah gesekan-gesekan yang ritmis, mau tidak mau bangun juga “junior” ku. Makin lama makin keras, dan aku yakin mbak Lala bisa merasakannya dy balik rok mininya itu.

Pikiran ngeresku pun muncul, seandainya aku bisa meremas dada dan pinggulnya yang montok itu, oh betapa nikmatnya. Akhirnya sampai juga kami ke Bekasi, dan aku bersyukur karena siksaanku berakhir. Kami kemudyan naik angkot, dan sepanjang jalan Mbak Lala dyam saja. Sampai ke rumahnya, kami beristirahat, mandy (sendiri-sendiri, loh) dan setelah itu makan malam bersama keponakanku. Selesai makan malam, kami bersantai, dan tak lama kedua keponakanku pun pamit tidur.

“Ndrew, mbak mau bicara sebentar”, katanya tegas sekali.
“Iya mbak kenapa”, sahutku bertanya. Aku berdebar, karena yakin bahwa mbak akan memarahiku akibat ketidaksengajaanku dy kereta tady.
“Terus terang aja ya. Mbak tau kok perubahan kamu dy kereta. Kamu ngaceng kan?” katanya, dengan nada tertahan seperti menahan rasa jengkel.
“Mbak tidak suka kalau ada laki-laki yang begitu ke perempuan. Itu namanya pelecehan. Tau kamu?!”.

“MMm maaf, mbak”, ujarku terbata-bata.
“Saya tidak sengaja. Soalnya kondysi kereta kan penuh banget. Lagian, nempelnya terlalu lama ya aku tidak tahan”, jawabku.
“Terserah apa kata kamu, yang jelas jangan sampai terulang lagi. Banyak cara untuk mengalihkan pikiran ngeres kamu itu. Paham?!”, bentak Mbak Lisa.
“Iya, Mbak. Saya paham. Saya janji tidak ngulangin lagi”.
“Ya sudah. Sana, kalau kamu mau main PS. Mbak mau tidur-tiduran dulu. kalau pengen nonton film masuk aja ke kamar Mbak”, sahutnya. Rupanya, tensinya sudah mulai menurun.

Akhirnya aku main PS dy ruang tengah. Karena bosan, aku ketok pintu kamarnya. Pengen nonton film. Rupanya Mbak Lala sedang baca novel sambil tiduran. Dya memakai daster panjang. Aku sempat mencuri pandang ke seluruh tubuhnya. Ku akui, walaupun punya anak dua, tubuh Mbak Lala betul-betul terpelihara. Maklumlah, modalnya ada. Aku pun segera menyetel DVD dan berbaring dy karpet, sementara Mbak Lala asyik dengan novelnya.

Entah karena lelah atau sejuknya ruangan, atau karena apa aku pun tertidur. Kurang lebih 2 jam, dan aku terbangun. Film telah selesai, Mbak Lala juga sudah tidur. Terdengar dengkuran halusnya. Wah, pasti ia capek banget, pikirku.

Saat aku beranjak dari tiduranku, hendak pindah kamar, aku terkesiap. Posisi tidur Mbak Lala yang agak telungkup ke kiri dengan kaki kana terangkat keatas benar-benar membuat jantungku berdebar. Bagaimana tidak?. Dy depanku terpampang paha mulus, karena dasternya sedykit tersingkap. Mbak Lala berkulit putih kemerahan, dan warna itu makin membuatku tak karuan. Hatiku tambah berdebar, nafasku mulai memburu birahiku pun timbul.

Perlahan, kubelai paha itu lembut, kusingkap daster itu sampai pangkal pahanya dan ahh “junior” ku mengeras seketika. Mbak Lala ternyata memakai CD mini warna merah, ohh my god apa yang harus kulakukan. Aku hanya menelan ludah melihat pantatnya yang tampak menggunung, dan CD itu nyaris seperti G-String.

Aku bener-bener terangsang melihat pemandangan indah itu, tapi aku sendyri merasa tidak enak hati, karena Mbak Lala istri sepupuku sendyri. Yang mana sebetulnya harus aku temani dan aku lindungi dykala suaminya sedang tidak dyrumah.

Baca Juga : Lotto03.com Bandar Togel Online Terbesar & Terpercaya

Namun godaan syahwat memang mengalahkan segalanya. Tak tahan, kusingkap pelan-pelan celana dalamnya, dan tampaklah gundukan memeknya berwarna kemerahan. Aku bingung harus kuapakan, karena aku masih ada rasa was-was, takut, kasihan tapi sekali lagi godaan birahi memang dahsyat.

Akhirnya pelan-pelan kujilati memek itu dengan rasa was-was takut Mbak Lala bangun. Sllrrpp mmffhh sllrrpp ternyata memeknya lezat juga, dytambah pubic hair Mbak Lala yang sedykit. Sehingga hidungku tidak geli bahkan leluasa menikmati aroma memeknya.

Entah setan apa yang menguasai pikiranku, tahu-tahu aku sudah mencopot seluruh celanaku. Setelah “junior” ku kubasahi dengan ludahku, segera kubenamkan ke memek Mbak Lala. Agak susah juga, karena posisinya itu. Dan aku harus ekstra hati-hati supaya ia tidak terbangun. Akhirnya “juniorku” ku berhasil masuk.

Hh hangat rasanya, sempit tapi licin seperti piston yang ada dalam silinder. Entah licin karena Mbak Lala mulai horny, atau karena ludah bekas jilatanku entahlah. Yang pasti, kugenjot dya naik turun pelan lembut tapi ternyata nggak sampai lima menit.

Aku begitu terpukau dengan keindahan pinggul dan pantatnya, kehalusan kulitnya, sehingga pertahananku jebol. Crroott ccrroott sseerr ssrreett kumuntahkan maniku ke dalam memek Mbak Lala. Aku merasakan pantatnya sedykit tersentak. Setelah habis maniku, pelan-pelan dengan dag-dig-dug kucabut penisku.

“Mmmhh kok dycabut tititnya”, suara Mbak Lala parau karena masih ngantuk.
“Gantian dong, aku juga pengen”.

Aku kaget bukan main. Jantungku tambah keras berdegup.

“Wah celaka”, pikirku.

“Ketahuan, nich”. Benar saja. Mbak Lala mambalikkan badannya. Seketika ia begitu terkejut dan secara refleks menampar pipiku. Rupanya ia baru sadar bahwa yang habis menyetubuhinya bukan Mas Adyt, melainkan aku, sepupunya.

“Kurang ajar kamu, Ndrew”, makinya.
“Keluar Kamu!”.

Aku segera keluar dan masuk kamar tidur tamu. Dy dalam kamar aku bener-bener gelisah, takut, malu apalagi kalau Mbak Lala sampai lapor polisi dengan tuduhan pemerkosaan. Wah terbayang jelas dy benakku acara Buser, malunya aku.

Aku mencoba menenangkan pikiranku dengan membaca majalah, buku, apa saja yang bisa membuatku mengantuk. Dan entah berapa lama aku membaca, aku pun akhirnya terlelap. Seolah mimpi, aku merasa “junior” ku seperti lagi keenakan, serasa ada yang membelai. Nafas hangat dan lembut menerpa selangkanganku, perlahan kubuka mata, dan.

“Mbak Lala, jangan”, pintaku sambil aku menarik tubuhku.
“Ndrew”, sahut Mbak Lala, setengah terkejut.
“Maaf ya, kalau tady aku marah-marah. Aku bener-bener kaget liat kamu tidak pake celana, ngaceng lagi”.
“Terus, Mbak maunya apa?”, aku bertanya pada Mbak. Aneh sekali, tady ia marah-marah sekarang kok jadi begini.

“Terus terang, Ndrew habis marah-marah tady, Mbak bersihin memek dari sperma kamu dan dysiram air dyngin supaya Mbak tidak ikutan horny. Tapi, Mbak kebayang-bayang titit kamu. Soalnya Mbak belum pernah ngeliat kayak punya kamu. Imut, tapi dalam meki Mbak kerasa tuh”. Sahutnya sambil tersenyum.

Dan tanpa menunggu jawabanku, dykulumnya penisku seketika sehingga aku tersentak dybuatnya. Mbak Lala begitu rakus melumat penisku yang ukurannya biasa-biasa saja. Bahkan aku merasakan penisku mentok sampai ke kerongkongannya.

Secara refleks, Mbak naik ke bed menyingkapkan dasternya ke mukaku. Posisi kami saat ini 69. Dan, ya Tuhan, Mbak Lala sudah melepas CD nya. Aku melihat memeknya makin membengkak merah. Labia mayoranya agak menggelambir, seolah menantangku untuk dyjilat dan dyhisap. Tak kusia-siakan segera kuserbu dengan bibirku.

“SSshh ahh Ndrew iya gitu he eh mmffhh sshh aahh”. Mbak Lala merintih menahan nikmat. Aku pun menikmati memeknya yang ternyata bener-bener becek. Aku suka sekali dengan cairannya.

“Itilnya dong Ndrew mm iya aahh kena aku, ampunn Ndreww”.

Mbak Lala makin keras merintih dan melenguh. Goyangan pinggulnya makin liar dan tak beraturan. Memeknya makin memerah dan makin becek. Sesekali jariku kumasukkan ke dalamnya sambil terus menghisap clitorisnya. Tapi rupanya kelihaian lidah dan jariku masih kalah dengan kelihaian lidah Mbak Lala. Buktinya aku merasa ada yang mendesak penisku, seolah mau menyembur.

“Mbak mau keluar nih”, kataku.

Tapi Mbak Lala tidak memperdulikan ucapanku dan makin ganas mengulum batang penisku. Aku makin tidak tahan dan crrootts srssrreett ssrett spermaku muncrat ke mulut Mbak Lala. Dengan rakusnya Mbak Lala mengusapkan spermaku ke wajahnya dan menelan sisanya.

“Ndrewww kamu ngaceng terus ya. Mbak belum kebagian nih”. Pintanya.

Aku hanya bisa meringis menahan geli, karena Mbak Lala melanjutkan mengisap penisku. Anehnya, penisku seperti menuruti kemauan Mbak Lala. Jika tady langsung lemas, ternyata kali ini penisku dengan mudahnya bangun lagi. Mungkin karena pengaruh lendir memek Mbak Lala sebab pada saat yang sama aku sibuk menikmati itil dan cairan memeknya, aku jady mudah terangsang lagi.

Tiba-tiba Mbak Lala bangun dan melepaskan dasternya.

“Copot bajumu semua, Ndrew”, perintahnya.

Aku menuruti perintahnya dan terperangah melihat pemandangan indah dy depanku. Buah dada itu membusung tegak. Kuperkirakan ukurannya 36B. Puting dan ariolanya bersih, merah kecoklatan, sewarna kulitnya. Puting itu benar-benar tegak ke atas seolah menantang kelelakianku untuk mengulumnya. Segera Mbak Lala berlutut ke atasku, dan tangannya membimbing penisku ke lubang memeknya yang panas dan basah. Bless sshh.

“Aduhh Ndrew tititmu keras banget yah”, rintihnya.
“Kok bisa kayak kayu sih?”.

Mbak Lala dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sesekali dyselingi gerakan maju mundur. Bunyi gemerecek akibat memeknya yang basah makin kerasa. Tak kusia-siakan, kulahap habis kedua putingnya yang menantang dengan rakus.

Mbak Lala makin keras goyangnya, dan aku merasakan tubuh dan memeknya makin panas, nafasnya makin memburu. Makin lama gerakan pinggul Mbak Lala makin cepat, cairan memeknya membanjir, nafasnya memburu dan sesaat kurasakan tubuhnya mengejang dan bergetar hebat, nafasnynya tertahan.

“Mmmmff sshssh aiihhh oughhh Ndreew Mbak keluar ahhssshh”.

Mbak Lala menjerit dan mengerang seiring dengan puncak kenikmatan yang telah dyraihnya. Memeknya terasa sangat panas dan gerakan pinggulnya demikian liar sehingga aku merasakan penisku seperti dypelintir. Dan akhirnya Mbak Lala roboh dy atas dadaku dengan ekspresi wajah penuh kepuasan.

Aku tersenyum penuh kemenangan sebab aku masih mampu bertahan. Tak dysangka, setelah istirahat sejenak, Mbak Lala bangkit dan duduk dy pinggir spring bed. Kedua kakinya mengangkang, punggungnya agak dytarik ke belakang dan kedua tangannya menyangga tubuhnya.

“Ndrew, ayo cepet masukin lagi. Itil Mbak kok rasanya kenceng lagi”, pintanya setengah memaksa.

Apa boleh buat, kuturuti kemauannya itu. Perlahan penisku kugosok-gosokkan ke bibir memek dan itilnya. Memek Mbak Lala mulai memerah lagi, itilnya langsung menegang, dan lendyrnya tampak mambasahi memeknya.

“Sshh mm Ndrew kamu jail banget siicchh oohh”, rintihnya.
“Masukin aja sayang, jangan siksa aku pleeaassee”, rengeknya.

Mendengar dya merintih dan merengek, aku makin bernafsu. Perlahan kumasukkan penisku yang memang masih tegak ke memeknya yang ternyata sangat becek dan terasa panas akibat masih memendam gelora birahi. Kugoyang maju mundur perlahan, sesekali dengan gerakan mencangkul dan memutar.

Mbak Lala mulai gelisah, nafasnya makin memburu, tubuhnya makin gemetaran. Tak lupa jari tengahku memainkan dan menggosok clitorisnya yang ternyata benar-benar sekeras dan sebesar kacang. Iseng-iseng kucabut penisku dari liang surganya, dan tampaklah lubang itu menganga kemerahan, basah sekali.

Gerakan jariku dy itilnya makin kupercepat, Mbak Lala makin tidak karuan gerakannya. Kakinya mulai kejang dan gemetaran, demikian pula sekujur tubuhnya mulai bergetar dan mengejang bergantian. Lubang memek itu makin becek, terlihat lendyrnya meleleh dengan derasnya, dan segera saja kusambar dengan lidahku, dyreguk habis semua lendyr yang meleleh. Tentu saja tindakanku ini mengagetkan Mbak Lala, terasa dari pinggulnya yang tersentak keras seiring dengan jilatanku ke memeknya.

Kupandangi memek itu lagi, dan aku melihat ada seperti daging kemerahan yang mencuat keluar, bergerinjal berwarna merah seolah-olah hendak keluar dari memeknya. Dan nafas Mbak Lala tiba-tiba tertahan dyiringi pekikan kecil dan ssrr ceerr aku merasakan ada cairan hangat muncrat dari memeknya.

Baca Juga : INDOPK.COM Agen Poker Online, Domino QQ dan Bandar Ceme Terpercaya

“Mbak udah keluar?”, tanyaku.
“Beluumm Ndreew ayo sayang masukin ****** kamu aku hampir sampaai”, erangnya.

Rupanya Mbak Lala sampai terkencing-kencing menahan nikmat. Akibat pemandangan itu aku merasa ada yang mendesak ingin keluar dari penisku, dan segera saja kugocek Mbak Lala sekuat tenaga dan secepat aku mampu, sampai akhirnya.

“Ndreeww aku keluarr ohhh sayang mmhhh aagghh uufff”. Mbak Lala menjerit dan mengerang tidak karuan sambil mengejang-ngejang.

Bola matanya tampak memutih, dan aku merasa jepitan dy penisku begitu kuat. Akhirnya bobol juga pertahananku.

“Mbak aku mau muncrat nich”, kataku.
“Keluarin sayang ayo sayang, keluarin ke dalem aku pengen kehangatan spermamu sekali lagi”. Pintanya sambil menggoyangkan pinggulnya, menepuk pantatku dan meremas pinggulnya.

Seketika itu juga jrruuoott jrroott srroott.

“Mbaakk Mbaakk oogghh aku muncratt mbaakk”, aku berteriak.

“Hmm ayo sayang keluarkan semua habiskan semua nikmati sayang ayo oohh hangat-hangat sekali spermamu dalam rahimku mmhh”, desah Mbak Lala manja menggairahkan.

Aku pun terkulai dyatas tubuh moleknya dengan nafas satu dua. Benar-benar malam yang sangat melelahkan sekaligus malam surgawi.

“Ndrew, makasih ya kamu bisa melepaskan hasrat ngesex ku”. Mbak Lala tersenyum puas sekali.
“He eh Mbak aku juga”, balasku.

“Aku juga makasih boleh menikmati tubuh Mbak. Terus terang, sejak ngeliat Mbak, aku pengen ngeseks dengan Mbak. Tapi aku sadar itu tak mungkin terjady. Gimana dengan keluarga kita kalau sampai tahu”.

“Waahh kurang ajar juga kamu ya”, kata Mbak Lala sambil memencet hidungku.
“Aku tidak nyangka kalau adek sepupuku ini pikirannya ngesex melulu. Tapi, sekarang impian kamu jady kenyataan kan?”.

“Iya, Mbak. Makasih banget aku boleh ngesex dan menikmati semua bagian tubuh Mbak”. Jawabku.

“Kamu pengalaman ngesex pertamaku, Ndrew. Maksud Mbak, ini pertama kali Mbak ngesex dengan laki-laki selain Mas Adyt. Tidak ada yang aneh kok. Titit Mas Adyt jauh lebih besar dari punya kamu. Mas Adyt juga perkasa, soalnya Mbak berkali-kali keluar kalau lagi join sama masmu itu”, sahutnya.

“Terus, kok keliatan puas banget, cari variasi ya?”, aku bertanya.
“Ini pertama kalinya aku ngesex sampai terkencing-kencing menahan nikmatnya gesekan jari dan tititmu itu. Suer, baru kali ini Mbak ngeseks sampai pipisin kamu segala. Kamu nggak jijik?”.

“Ooohh itu toh, kenapa harus jijik. Justru aku makin horny ingin merasakan memek Mbak lagi”, aku tersenyum.

Dan bagi teman-teman yang hobby bermain game casino online dan togel online.
Silahkan bergabung dengan kami Lotto03 agen casino online dan togel online terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *