Tante Ku Yang Sangat Jago Dalam Bercinta

Sexy18 Cerita seks tante ku dengan aku ini berawal dari aku pada usia 18 tahun ketika masih SMA. Waktu itu, karena niatku yang ingin melanjutkan sekolah ke Jakarta, aku dytitipkan pada keluarga teman baik ayahku. Seorang pensiunan perwira ABRI berpangkat Brigjen.

Om Toto, begitu aku memanggilnya, adalah seorang purnawirawan ABRI yang cukup berpengaruh, kini ia mengelola perusahaan sendyri yang lumayan besar. Anak-anak mereka, Halmi dan Julia yang seusiaku kini ada dy Amerika sejak mereka masih berumur 12 tahun. Sedangkan yang sulung, Sonny kuliah dy Jogja.

Tante Ku Yang Sangat Jago Dalam Bercinta

Tante Ku Yang Sangat Jago Dalam Bercinta

Istri Om Toto sendyri adalah seorang pengusaha sukses dy bidang export garmen. Aku memanggilnya Tante Mirna, wanita berwajah manis berumur 43 tahun dengan perawakan yang bongsor dan seksi khas ibu-ibu istri pejabat. Sejak tinggal dy rumah megah itu aku seringkali dytugasi mengantar Tante Mirna, meski ada dua sopir pribady tapi Tante Mirna lebih senang kalau aku yang mengemudykan mobilnya. Lebih aman, katanya sekali waktu.

Meski keluarga Om Toto kaya raya, tampaknya hubungan antara ia dan istrinya tak begitu harmonis. Aku sering mendengar pertengkaran-pertengkaran dyantara mereka dalam kamar tidur Om Toto, seringkali saat aku menonton televisi terdengar teriakan mereka dari ruang tengah. Sedykitpun aku tak mau peduli atas hal itu, toh ini bukan urusanku, lagi pula aku kan bukan anggota keluarga mereka. Biasanya mereka bertengkar malam hari saat keduanya sama-sama baru pulang kerja. Belakangan bahkan terdengar kabar kalau Om Toto punya beberapa wanita simpanan. “Ah untuk apa memikirkannya” benakku.

Suatu hari pada bulan Oktober, Bi Surti, Siti (para pembantu), Mang Darja dan Om Edy (supir), pulang kampung mengambil jatah liburan mereka bersamaan saat lebaran. Sementara Om Toto dan Sonny pergi berlibur ke Amrik sambil menjenguk kedua anaknya dy sana. Tante Mirna masih sibuk menangani bisnisnya yang sedang naik daun, ia lebih sering tidak pulang, hingga dalam rumah itu tinggal aku sendyri. Perasaanku begitu merdeka, tak ada yang mengawasi atau melarangku untuk berbuat apa saja dalam rumah besar dan mewah itu. Mereka memintaku menunda jadwal pulang kampung yang sudah jauh hari kurencanakan, aku mengiyakan saja, toh mereka semua baik dan ramah padaku.

Malamnya aku duduk dy depan televisi, namun tak satu pun acara TV itu menarik perhatianku. Aku termenung sejenak memikirkan apa yang akan kuperbuat, sudah tiga hari tiga malam sejak keberangkatan Om Toto. Tante Mirna tak tampak pulang ke rumah. Maklumlah bisnisnya level tingkat internasional, jady tak heran kalau mungkin saja hari ini ia ada dy Hongkong, Singapore atau dy mana saja. Saat sedang melamun aku melirik ke arah lemari besar dekat samping pesawat TV layar super lebar itu. Mataku tertuju pada rak piringan VCD yang ada dy sana. Segera kubuka sambil memilih film-film bagus. Namun yang paling membuat aku menelan ludah adalah sebuah film dengan cover depan wanita telanjang. Tak kulihat pasti judulnya namun langsung kupasang dan “wow” batinku kegirangan begitu melihat adegannya yang wah. Seorang lelaki berwajah hispanik sedang menggauli dua perempuan sekaligus dengan beragam gaya.

Sesaat kemudyan aku sudah larut dalam film itu. Penisku sudah sejak tady mengeras seperti batu, malah saking kerasnya terasa sakit, aku sejenak melepas celana panjang dan celana dalam yang kukenakan dan menggantinya dengan celana pendek yang longgar tanpa CD. Aku duduk dy sofa panjang depan TV dan kembali menikmati adegan demi adegan yang semakin membuatku gila. Malah tanganku sendyri meremas-remas batang kemaluanku yang semakin tegang dan keras. Tampak penis besarku sampai menyembul ke atas melewati pinggang celana pendek yang kupakai. Cairan kental pun sudah terasa mengalir dari sana.

Tapi belum lagi lima belas menit, karena terlalu asyik aku sampai tak menyangka Tante Mirna sudah berada dy luar ruang depan sambil menekan bel. Ah, aku lupa menutup pintu gerbang depan hingga Tante Mirna bisa sampai dy situ tanpa sepengetahuanku, untung pintu depan terkunci. Aku masih punya kesempatan mematikan power off VCD Player itu, dan tentunya sedykit mengatur nafas yang masih tegang ini agar sedykit lega.

“Kamu belum tidur, Dy?”, sapanya begitu kubuka pintu depan.

“Belum, tante”, hidungku mencium bau khas parfum Tante Mirna yang elegan.

“Udah makan?”.

“Hmm, belum sih tante sudah makan?”, aku mencoba balik bertanya.

“Belum juga tuh, tapi tante barusan dari rumah teman, trus dy jalan baru mikirin makan, so tante pesan dua paket antaran dy KFC, kamu mau?”.

“Mau dong tante, tapi mana paketnya, belum datang kan?”.

“Tuh kan, kamu pasti lagi asyik dy kamar makanya nggak dengerin kalau pengantar makanannya datang sedykit lebih awal dari tante”.

“Ooo”, jawabku.

Tante Mirna berlalu masuk kamar, kuperhatikan ia dari belakang. Uhh, bodynya betul-betul bikin deg-degan atau mungkin karena saya baru saja nonton BF yah.

Ayo kita makan, ajaknya kemudyan, tiba-tiba ia muncul dari kamarnya sudah berganti pakaian dengan sebuah daster putih longgar tanpa lengan dan berdada rendah.

“Ya ampun Tante Mirna”, batinku berteriak tak percaya, baru kali ini aku memperhatikan wanita itu. Kulitnya putih bersih, dengan betis yang wow, berbulu menantang pastilah punya nafsu seksual yang liar, itu kata temanku yang pengalaman seksnya tinggi. Buah dadanya tampak menyembul dari balik gaun itu, apalagi saat ia melangkah ke sampingku, samar-samar dari sudut mataku terlihat BH-nya yang putih.

“Uh, apa ini gara-gara film itu?”, batinku lagi. Khayalku mulai kurang ajar, memasukkan bayangan Tante Mirna ke dalam adegan film tady.

“Hmm”, Tak sadar mulutku mengeluarkan suara itu.

“Ada apa, Dy?”. Tante Mirna memandangku dengan alis berkerut.

“Nnggg, nggak apa-apa tante”. Aku jady sedykit gugup. Oh wajahnya, kenapa baru sekarang aku melihatnya begitu cantik.

“Eh, kamu ngelamun yah, ngelamunin siapa sih? Pacar?”, tanyanya.

“Nggak ah tante”, dadaku berdesir sesaat pandangan mataku tertuju pada belahan dadanya.

“My god, gimana rasanya kalau tanganku sampai mendarat ke permukaan buah dadanya, mengelus, merasakan kelembutan payudara itu, ooohh”. Lamunan itu terus merayap.

“Heh, ayo makanmu lho, Dy”.

“Ba, bbbbbaik tante”, jelas sekali aku tampak gugup.

“Nggak biasanya kamu kayak gini, Dy. Mau cerita nggak sama tante”.

My god, dya mau aku ceritakan apa yang aku lamunkan.

Pelan-pelan sambil terus melamun sesekali berbicara padanya, akhirnya makananku habis juga. Aku kembali ke kamar dan langsung menghempaskan badanku ke tempat tidur. Masih belum lepas juga bayangan tubuh Tante Mirna. “Gila! Gila! kenapa perempuan paruh baya itu membuatku gila”, pikirku tak habis habisnya. Umurnya terpaut sangat jauh denganku, aku baru 18 tahun, dua puluh lima tahun dybawahnya. Ah, mengapa harus kupikirkan.

Aku melangkah ke meja komputer dy kamarku, mencoba melupakannya. Beberapa saat aku sudah tampak mulai tenang, perhatianku kini pada e-mail yang akan kukirim pada teman-teman netter. Aku memang hobi korespondensi via internet. Tapi mendadak pintu kamarku dyketuk dari luar.

“Dy, Didy, ini Tante”, terdengar suara tante seksi eh Mirna memanggil.

“Ah”, aku beranjak bangun dari kursi itu dan membuka pintu, “Ada apa, tante?”.

“Kamu bisa buatin tante kopi?”.

“Ooo, bisa tante”.

“Tahu selera tante toh”.

“Iya tante, biasanya juga saya lihat Siti”, jawabku singkat dan langsung menuju ke dapur.

“Tante tunggu dy ruang tengah ya, Dy”.

“Baik, tante”.

Gelas yang kupegang itu hampir saja jatuh saat kulihat apa yang sedang dysaksikan Tante Mirna dy layar TV. Pelan-pelan tanganku meletakkan gelas berisi kopi itu ke sebuah meja kecil dy samping Tante Mirna, lalu bersiap untuk pergi meninggalkannya.

“Didy”.

“Ya, tante”.

Baca Juga : Lotto03.com Bandar Togel Online Terbesar & Terpercaya

“Kamu kalau habis pasang film seperti ini lain kali masukin lagi ke tempatnya yah”.

“Mm, ma ma maaf tante”, aku tergagap. Apalagi melihat Tante Mirna yang berbicara tanpa melihat ke arahku. Benar-benar aku merasa seperti maling yang tertangkap basah.

“Dy”. Tante Mirna memanggil, kali ini ia memandangi, aku menundukkan muka, tak kubayangkan lagi kemolekan tubuh istri Om Toto itu. Aku benar-benar takut.

“Tante nggak bermaksud marah lho, dy”, byarrr hatiku lega lagi.

“Sekarang kalau kamu mau nonton, ya sudah sama-sama aja dy, sini toh sudah waktunya kamu belajar tentang ini, biar nggak kuper”, ajaknya.

“Wooow”, kepalaku secepat kilat kembali membayangkan tubuhnya. Aku duduk ke sofa sebelah tempatnya. Mataku lebih sering melirik tubuh Tante Mirna dari pada film itu.

“Kamu kan sudah 18 tahun, Dy. Ya nggak ada salahnya kalau nonton beginian. Lagipula tante kan nggak biasa lho nonton yang beginian sendyri”.

Apa kalimat itu berarti undangan, atau kupingku yang salah dengar. Oh my god Tante Mirna mengangkat sebelah tangannya dan menyandarkan lengannya ke sofa itu. Dari celah gaun dy bawah ketiaknya terlihat jelas bukit payudaranya yang masih berlapis BH.

Ukurannya benar-benar membuatku menelan ludah. Posisi duduknya berubah, kakinya dysilangkan hingga daster itu sedykit tersingkap. Wooow, betis dengan bulu-bulu halus itu. Hmm, Wanita 40-an itu benar-benar menantang, wajah dan tubuhnya mirip sekali dengan pengusaha Dewi Motik. Hanya Tante Mirna kelihatan sedykit lebih muda, bibirnya lebih sensual dan hidungnya lebih mancung. Aku tak mengerti kenapa perempuan paruh baya ini begitu tampak mempesona dalam mataku. Tapi mungkinkah, tidak, dya adalah istri Om Toto, orang yang belakangan ini sangat memperhatikanku. Aku dy sini untuk belajar atas biaya mereka, ah persetan.

Tante Mirna mendadak mematikan VCD Player dan memindahkannya ke sebuah TV swasta.

“Lho kok?”.

“Ah tante bosan ngeliatin itu terus, Dy”.

“Tapi kan”.

“Sudah kalau mau kamu pasang aja sendyri dalam kamar”, wajahnya masih biasa saja.

“Eh, ngomong-ngomong kamu sudah hampir setahun dy sini yah?”.

“Iya tante”.

“Sudah punya pacar?”, ia beranjak meminum kopi yang kubuatkan untuknya.

“Belum”, mataku melirik ke arah belahan daster itu, tampaknya ada celah yang cukup untuk melihat payudara besarnya. Tak sadar penisku mulai berdyri.

“Kamu nggak nyari gitu?”, ia mulai melirik sesekali ke arahku sambil tersenyum.

“Alamaak, senyumnya oh singkapan daster bagian bawah itu, uh Tante Mirna, pahamu”. Teriak batinku saat tangannya tanpa sengaja menyingkap belahan gaun dy bagian bawah itu. Sengaja atau tidak sih.

“Eeh Dy, kamu ngeliatin apaan sih?”.

Blarrr, mungkin ia tahu kalau aku sedang berkonsentrasi memandang satu persatu bagian tubuhnya. “Nngggak kok tante nggak ngeliat apa-apa”.

“Lho mata kamu kayaknya mandangin tante terus. Apa ada yang salah sama tante, Dy”, ya ampun dya tahu kalau aku sedang asyik memandanginya.

“Eh, mm anu tante, aa aanu, tante”, kerongkonganku seperti tercekat.

“Anu apa, ah kamu ini ada-ada saja kenapa”, matanya semakin terarah pada selangkanganku. Bangsat aku lupa pakai celana dalam. Pantas Tante Mirna tahu kalau penisku tegang.

“Ta, ta tante cantik sekali”, aku tak dapat lagi mengontrol kata-kataku. Dan astaga, bukannya marah, Tante Mirna malah mendekati aku.

“Apa, tante nggak salah dengar?”, katanya setengah berbisik.

“Bener kok tante”.

“Tante yang seumur ini kamu bilang cantik, ah bisa aja. Atau kamu mau sesuatu dari tante”. Ia memegang pundakku, terasa begitu hangat dan duh gusti buah dada yang sejak tady kuperhatihan itu kini hanya beberapa sentimeter saja dari wajahku. Apa aku akan dapat menyentuhnya, come on man. Dya istri Om Toto batinku berkata.

Tangannya masih berada dy pundakku sebelah kiri, aku masih tak bergeming. Tertunduk malu tanpa bisa mengendalikan pikiranku yang berkecamuk. Harum semerbak parfumnya semakin menggoda nafsuku untuk berbuat sesuatu. Kuberanikan mataku melirik lebih jelas ke arah belahan kain daster berbunga itu. Wow, sepintas kulihat bukit dy selangkangannya yang ahh, kembali aku menelan ludah.

“Kamu belum jawab pertanyaan tante lho, Dy. Atau kamu mau tante jawab sendyri pertanyaan ini”.

“Nggak kok tante, sss, sss saya jujur kalau tante memang cantik, eh mm, menarik”.

“Kamu belum pernah kenal cewek yah”.

“Belum, tante”.

“Kalau tante kasih pelajaran gimana?”.

Ini dya yang aku tunggu, ah persetan dya istri Om Toto. Anggap saja ini pembalasan Tante Mirna padanya. Dan juga, oh aku ingin segera merasakan tubuh wanita.

“Maksud tante, apa”, lanjutku bertanya, pandangan kami bertemu sejenak namun aku segera mengalihkan.

“Kamu kan belum pernah pacaran nih, gimana kalau kamu tante ajarin caranya nikmati wanita”.

“Ta, tapi tante”, aku masih ragu.

“Kamu takut sama Om Toto. Tenang, yang ada dalam rumah ini cuman kita, lho”.

“This is excellent”, teriakku dalam hati. Pucuk dycinta ulam pun tiba. Batinku terus berteriak tapi badanku seperti tak dapat kugerakkan.

Beberapa saat kami berdua terdyam.

“Coba sini tangan kamu”, aku memberikan tanganku padanya, my goodness tangan lembut itu menyentuh telapak tanganku yang kasarnya minta ampun.

“Rupanya kamu memang belum pernah nyentuh perempuan, Dy. Tante tahu kamu baru beranjak remaja dan tante ngerti tentang itu”. Berkata begitu sambil mengelus punggung tanganku, aku merindyng dybuatnya, sementara dy bawah, penisku yang sejak tady sudah tegang itu mulai mengeluarkan cairan hingga menampakkan titik basah tepat di permukaan celana pendek itu.

“Tante ngerti kamu terangsang sama film itu. Tapi tante perhatiin belakangan ini kamu sering dyam-dyam memandangi tubuh tante, benar kan”. Aa seperti menyergapku dalam sebuah perangkap, tangannya terus mengelus punggung telapak tanganku. Aku benar-benar merasa seperti maling yang tertangkap basah, tak sepatah kata lagi yang bisa kuucapkan.

“Kamu kepingin pegang dada tante kan”.

Daarrr, dadaku seperti pecah, mukaku mulai memerah. Aku sampai lupa dy bawah sana adek kecilku mulai melembek turun. Dengan segala sisa tenaga aku beranikan membalas pandangannya. Memaksa dyriku mengikuti senyum Tante Mirna. Dan, astaga Tante Mirna menuntun telapak tanganku ke arah payudaranya yang menggelembung besar itu.

“Ta, ta tante, ooohh”, suara itu keluar begitu saja, dan Tante Mirna hanya melihat tingkahku sambil tersenyum. Adekku bangun lagi dan langsung seperti ingin meloncat keluar dari celanaku. Istri Om Toto itu melotot ke arah selangkanganku.

“Waaww, besar sekali punya kamu Dy”, serunya lalu secepat kilat tangannya menggenggam kemaluanku kemudyan mengelus-elusnya. Secara reflek tanganku yang tadynya malu-malu dan terlebih dulu berada dy permukaan buah dadanya bergerak meremas dengan sangat kuat sampai menimbulkan desah dari mulutnya.

“Aahh, mm remas sayang ooohh”.

Masih tak percaya akan semua itu, aku membalikkan badan ke arahnya dan mulai menggerakkan tangan kiriku. Aku semakin berani, kupandangi wajah istri Om Toto itu dengan seksama.

“Teruskan, Dy buka baju tante”, permpuan itu mengangguk pelan. Matanya berbinar saat melihat kemaluanku tersembul dari celah celana pendekku. Kancing dasternya kulepas satu persatu, bagian dadanya terbuka lebar. Masih dengan tangan gemetar aku meraih kedua buah dada yang berlapis BH putih itu. Perlahan-lahan aku mulai meremasnya dengan lembut, kedua telapak tanganku kususupkan melewati BH nya.

“Mm, tante”, aku menggumam merasakan kelembutan buah dada besar Tante Mirna yang selama sebulan terakhir ini hanya jady impianku saja. Jari jemariku terasa begitu nyaman, membelai lembut daging kenyal itu, aku memilin puting susunya yang begitu lembutnya.

Aku pun semakin berani, BH nya kutarik ke atas dan wooww, kedua buah dada itu membuat mataku benar-benar jelalatan.

“Mm, kamu sudah mulai pintar, Dy. Tante mau kamu”, belum lagi kalimat Tante Mirna habis aku sudah mengarahkan mulutku ke puncak bukit kembarnya dan “cruppp”. Sedotanku langsung terdengar begitu bibirku mendarat ke permukaan puting susunya.

“Aahh, Didy ooohh, sedooot teruuus aahh”, tangannya semakin mengeraskan genggamannya pada batang penisku, celana pendek itu sejak tady dypelorotnya ke bawah. Sesekali kulirik ke atas sambil terus menikmati puting buah dadanya satu persatu. Tante Mirna tampak tenang sambil tersenyum melihat tingkahku yang seperti monyet kecil menetek pada induknya. Jelas Tante Mirna sudah berpengalaman sekali. Batang penisku tak lagi hanya dyremasnya, ia mulai mengocok-ngocoknya. Sebelah lagi tangannya menekan-nekan kepalaku ke arah dadanya.

“Buka pakaian dulu Dy”. Ia menarik baju kaos yang kukenakan, aku melepas gigitanku pada puting buah dadanya, lalu celanaku ia lepaskan. Lalu sejenak ia berdyri dan melepas gaun dasternya, kini aku dapat melihat tubuh Tante Mirna yang bahenol itu dengan jelas. Buah dada besar itu bergelantungan sangat menantang. Dan bukit dy antara kedua pangkal pahanya masih tertutup celana dalam putih, bulu-bulu halus tampak merambat keluar dari arah selangkangan itu. Dengan agresif tanganku menjamah CD nya, langsung kutarik sampai lepas.

“Eeeiiit, ponakan tante sudah mulai nakal yah”, katanya genit semakin membangkitkan nafsuku.

“Saya nggak tahan ngeliat tubuh tante”, dengusanku masih terdengar semakin keras.

“Kita lakukan dalam kamar yuk”, ajaknya sambil menarik tanganku yang tadynya sudah mendarat ke permukaan selangkangannya.

“Shitt” makiku dalam hati, baru saja aku mau merasakan lembutnya bukit dy selangkangannya yang mulai basah itu.

Tante Mirna langsung merebahkan badan ke tempat tidur itu. Tapi mataku sejenak tertuju pada foto Om Toto dengan baju kehormatan militernya.

“Ta, tapi Tante”.

“Tapi apa, ah kamu Dy”. Tante Mirna melotot.

“Tante kan istri Om Toto”.

“Yang bilang tante istri kamu siapa”, aku sedykit kendor mendengarnya.

“Saya takut tante, malu sama Om Toto”.

“Emangnya dy sini ada kamera yang bisa dy lihat dari LA. Didy, Didy kamu nggak usah sebut nama bangsat itu lagi deh”, intonasi suaranya meninggi.

“Trus gimana dong tante”, aku tambah tak mengerti.

“Sudahlah Dy kamu lakukan saja, kamu sudah lama kan menginginkan ini”. Aku tak bisa menjawab, sementara mataku kembali memandang selangkangan Tante Mirna yang kini terbuka lebar. Hmm, persetan dari mana dya tahu aku sudah menantikan ini, itu urusan belakang.

Aku langsung menindihnya, dadaku menempel pada kedua buah payudara itu, kelembutan buah dada yang dulunya hanya ada dalam khayalan itu sekarang menempel ketat dy dadaku. Bibir kamipun kini bertemu, Tante Mirna menyedot lidahku dengan lembut. Uhh, nikmatnya, tanganku menyusup dy antara dada kami, meraba-raba dan meremas kedua belahan susunya yang besar itu.

“Mm, ooohh, tante Mirna aahh”, kegelian bercampur nikmat saat Tante Mirna memadukan kecupannya ke leherku sambil menggesekkan selangkangannya yang basah itu pada penisku.

“Kamu mau sedot susu tante lagi”, tangannya meremas sendyri buah dada itu, aku tak menjawabnya, bibirku merayap ke arah dadanya. Bertumpu pada tangan yang kutekuk sambil berusaha meraih susunya dengan bibirku, lidahku mulai bekerja liar menjelajahi bukit kenyal itu senti demi senti.

“Hmm, pintar kamu Dy ooohh” Desahan Tante Mirna mulai terdengar, meski serak-serak tertahan nikmatnya jilatanku pada putingnya yang lancip.

“Sekarang kamu ke bawah lagi sayang”.

Aku yang sudah terbawa nafsu berat itu menurut saja, lidahku merambat cepat ke arah pahanya. Tante Mirna membukanya lebar dan semerbak aroma selangkangannya semakin mengundang birahiku, aku jady semakin gila. Kusibak bulu-bulu halus dan lebat yang menutupi daerah vaginanya. Uhh, liang vagina itu tampak sudah becek dan sepertinya berdenyut, aku ingat apa yang harus kulakukan, tak percuma aku sering dyam-dyam nonton DVD porno. Lidahku menjulur lalu menjilati vagina Tante Mirna.

“Ooouuuhh, kamu cepat sekali belajar Dy. Hmm, enaknya jilatan lidah kamu, ooohh ini sayang”. Ia menunjuk sebuah daging yang mirip biji kacang dy bagian atas kemaluannya, aku menyedotnya keras, lidah dan bibirku mengaduk-aduk isi liang vaginanya.

“Ooohh, yaahh enaak Dy, pintar kamu Dy ooohh”. Tante Mirna mulai menjerit kecil merasakan sedotanku pada biji kacang yang belakangan kutahu bernama clitoris.

Ada sekitar tujuh menit lebih aku bermain dalam daerah itu. Sampai kurasakan tiba-tiba ia menjepit kepalaku dengan keras dy antara pangkal pahanya, aku hampir-hampir tak dapat bernafas.

“Aahh, tante nggak kuaat aahh, Didyyy”, teriaknya panjang seiring tubuhnya yang menegang, tangannya meremas sendyri kedua buah dadanya yang sejak tady bergoyang-goyang. Dari liang vaginanya mengucur cairan kental yang langsung bercampur air liur dalam mulutku.

“Uffff, Dy kamu pintar bener. Sering nonton yah”, ia memandangku genit.

“Makasih Dy, selama ini tante nggak pernah mengalaminya makasih sayang. Sekarang beri tante kesempatan istirahat sebentar saja”, ia lalu mengecupku dan beranjak ke arah kamar mandy.

Aku tak tahu harus melakukan apa, senjataku masih tegang dan keras hanya sempat mendapat sentuhan tangan Tante Mirna. Batinku makin tak sabar ingin cepat menumpahkan air maniku ke dalam vaginanya. Masih jelas bayangan tubuh telanjang Tante Mirna beberapa menit yang lalu. Ahh aku meloncat bangun dan menuju ke kamar mandy. Kulihat Tante Mirna sedang mengguyur tubuhnya dy bawah shower.

“Tante”.

“Hmm, kamu sudah nggak sabar ya”, ia mengambil handuk dan mendekatiku. Tangannya langsung meraih batang penisku yang masih tegang.

“Woooww, tante baru sadar kalau kamu punya segede ini Dy, ooohhmm”, ia berjongkok dy hadapanku. Aku menyandarkan tubuh dy dinding kamar mandy itu dan secepat kilat Tante Mirna memasukkan penis itu ke mulutnya.

“Ohh, nikmat Tante Mirna ooohh, ooohh, ahh”, geli bercampur nikmat membuatku seperti melayang. Baru kali ini punyaku masuk ke dalam alatnya perempuan, ternyata ahh, lezatnya setengah mati. Penisku tampak semakin tegang, mulut mungil Tante Mirna hampir tak dapat lagi menampungnya. Sementara tanganku ikut bergerak meremas-remas payudaranya.

“Uuuhh punya kamu ini lho Dy, tante jady nafsu lagi nih yuk kita lanjutin lagi”, tangannya menarikku kembali ke tempat tidur. Tante Mirna seperti melihat sesuatu yang begitu menakjubkan. Perempuan setengah baya itu langsung merebahkan dyri dan membuka kedua pahanya ke arah berlawanan, mataku lagi-lagi melotot ke arah belahan vaginanya. Mm, kusempatkan menjilatinya semenit lalu dengan tergesa-gesa aku tindyh tubuhnya.

“Heh, sabar dong Dy. Kalau kamu gelagapan gini bisa cepat keluar nantinya”.

“Keluar apa, Tante”.

Baca Juga : INDOPK.COM Agen Poker Online, Domino QQ dan Bandar Ceme Terpercaya

“Nanti kamu tahu sendyri, deh”, tangannya meraih penisku dy antara pahanya, kakinya dytekuk hingga badanku terjepit dyantaranya. Pelan sekali ibu jari dan telunjuknya menempelkan kepala penisku ke bibir kemaluannya.

“Sekarang kamu tekan pelan-pelan sayang, ahhooowww, yang pelan sayang oh punya kamu segede kuda tahu”. Liriknya genit saat merasakan penisku yang baru setengah masuk itu.

“Begini tante”, dengan hati-hati kugerakkan lagi, pelan sekali rasanya seperti memasuki lubang memek yang sangat sempit.

“Tarik dulu sedykit Dy, yah tekan lagi. Pelan-pelan, yaahh masuk sayang ooohh besarnya punya kamu, ooohh”.

“Tante suka”.

“Suka sayang ooohh, sekarang kamu goyangin mm, yak gitu terus tarik, aahh, pelan sayang vagina tante rasanya, ooouuuhh mau robek. Mmhh, yaahh tekan lagi sayang, ooohh hhmm enaakkk, ooohh”.

“Kalau sakit bilang saya yah tante”, kusempatkan mengatur gerakan, tampaknya Tante Mirna sudah bisa menikmatinya, matanya memejam.

“Hmm, ooohh”, Tante Mirna kini mengikuti gerakanku. Pinggulnya seperti berdansa ke kiri kanan. Liang vaginanya bertambah licin saja. Penisku kian lama kian lancar, kupercepat goyanganku hingga terdengar bunyi selangkangannya yang becek bertemu pangkal pahaku. Plak plak plak plak, aduh nikmatnya perempuan setengah baya ini. Mataku merem melek memandangi wajah keibuan Tante Mirna yang masih saja mengeluarkan senyuman. Nafsuku semakin jalang, gerakanku yang tadynya santai kini tak lagi berirama. Buah dadanya tampak bergoyang ke sana ke mari, mengundang bibirku beraksi.

“Ooohh sayang kamu buas sekali. Hmm, tante suka yang begini ooohh, genjot terus mm”.

“Uuhh tante nikmat tante, mm tante cantik sekali ooohh”.

“Kamu senang sekali susu tante yah, ooohh sedooot teruuus susu tanteee aahh, panjang sekali peler kamu ooohh, Didyyy, aahh”. Jeritannya semakin keras dan panjang, denyutan vaginanya semakin terasa menjepit batang penisku yang semakin terasa keras dan tegang.

“Dyyy”, dengusannya turun naik.

“Yah uuuhh ada apa tante”.

“Kamu bener-bener hebat sayang, ooowwww uuuhh tan tante mau keluar hampiiirr, aahh”. Gerakan pinggulnya yang liar itu semakin tak karuan, tak terasa sudah lima belas menit kami berkutat.

Kupaksakan dyriku meraih klimaks itu bersamaan dengannya. Aku agaknya berhasil, perlahan tapi pasti kami kemudyan saling mendekap erat sambil saling berteriak keras.

“Aahh, tante keluaar”.

“Saya juga tante huuhh, nikmat nikmat ooohh, Tante Mirna aahh”, dan penisku. “Crat crat crat seeer”, menyemprotkan cairannya sekitar lima enam kali ke dalam liang vagina Tante Mirna yang juga tampak menikmati orgasmenya untuk kedua kali.

“Huuuhh, capeeekk sayang”, ia melepaskan pelukannya dan penisku yang masih menancap itu. Hmm, kulihat ada cairan yang mengalir dy pahanya bagian dalam, ada yang menetes ke lantai.

“Mau dy lap tante”, aku menawarkan tissue.

“Nggak sayang, tante senang kok. Tante bahagia, yang mengalir itu sperma kamu dan cairan kelamin tante sendyri. Tante ingin menikmatinya”, ia berkata begitu sambil memberiku sebuah ciuman.

“Hmm, Tante Mirna”, Kuperbaiki letak BH dan rambutnya yang acak-acakan, kemudyan ia kembali menyiapkan jajanan yang sempat terhenti oleh ulah nakalku.

Aku kembali ke kamar dan keluar lagi setelah mengenakan baju kaos. Tante Mirna telah menunggu dy taman belakang rumahnya yang sangat luas, kira-kira sekitar 25 acre. Kami duduk santai berdua sambil bercanda menikmati suasana dy pinggiran sebuah danau buatan. Sesekali kami berciuman mesra seperti pengantin baru yang lagi haus kemesraan. Jadylah dua minggu kepergian keluarga Om Toto itu surga dunia bagiku dan Tante Mirna. Kami melakukannya setiap hari, rata-rata empat sampai lima kali sehari.

Menjelang sore, Tante Mirna mengajakku mandy bersama. Bisa dytebak, kami melakukannya lagi dy bathtub kamar mandy mewah itu. Saling menyabuni dan hmm, bayangin sendyri deh. Itulah pengalaman pribadyku saat pertama mengenal seks bersama guru seks ku yang sangat cantik, Tante Mirna.

Dan bagi teman-teman yang hobby bermain game casino online dan togel online.
Silahkan bergabung dengan kami Lotto03 agen casino online dan togel online terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *